span.fullpost {display:none;}

Senin, 16 April 2012

HATI HAMBA

Lukas 17:7-10 Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” (Ayat 10)

Menjadi seorang hamba tidaklah berarti menjadi seorang yang hanya tunduk pada tuannya tanpa memahami arti dari menundukkan itu sendiri. Karena mudah saja bagi seseorang menunjukkan sikap tunduk tetapi kemudian apa yang dikerjakan sebenarnya,hanyalah untuk mendapatkan sesuatu bagi dirinya sendiri. Dan celakanya adalah bahwa ketika apa yang diinginkan itu tidak diperoleh maka timbullah kekecewaan, dan rupa-rupa protes bahkan mungkin saja berakhir pada pemberontakan.

Dalam gereja pun banyak ditemui gejala-gejala seperti ini. Dengan motivasi untuk menunjukkan kelebihannya, talentanya, atau hal-hal yang lain yang mendatangkan keuntungan bagi dirinya sendiri, dapat membuat seorang pelayan atau hamba Tuhan seakan sedang melayani Tuhan dengan penuh kerendahan hati. Namun suatu saat kemurnian hati sebagai seorang hamba itu akan nampak ketika ada sesuatu yang membuatnya kecewa. Timbulah sungutan, protes dan bahkan mungkin juga keputusan untuk meninggalkan pelayanan dengan membawa kepahitan.


Lukas 17 ayat 10 katakan, Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

Berdasarkan ayat diatas ada beberapa hal yang perlu kita renungan agar kita dapat menjadi seorang yang benar-benar memiliki hati hamba dan memberikan yang terbaik bagi Tuhan.

1. Selidikilah apa sesungguhnya yang menjadi alasan bagi kita dalam melayani Tuhan. Apakah karena tuntutan tugas dalam gereja, atau sekedar mengisi kekosongan.. atau karena uang, atau seribu alasan lain yang bertujuan untuk memuaskan diri kita sendiri? Orang yang mengisi kekosongan waktunya dengan melayani, pada awalnya akan nampak memiliki kesungguhan. Tetapi waktu akan membuktikan bahwa orang-orang yang demikian tidak akan bertahan lama, karena kejenuhan akan membuatnya mulai mencari kesibukan lain untuk mengisi waktu yang kosong. Demikian juga dengan orang yang melayani karena uang. Tingkat kehidupan manusia yang beraneka ragam akan membuat manusia tidak pernah dipuaskan dengan apa yang dimiliki. Dan orang-orang yang tidak memiliki karakter yang kuat, akan mudah menukar apapun demi kebutuhan hidup.

Satu-satunya alasan yang paling tepat, yang harus dimiliki dalam melayani oleh setiap orang yang menamakan dirinya hamba Tuhan atau pelayan Tuhan adalah karena kesadaran bahwa dirinya adalah seorang hamba yang tidak punya hak lagi atas dirinya tetapi hanya melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan (ayat 10 “… kami hanya melakukan apa yang kami harus lalukan”.)

2. Seorang yang memiliki hati hamba akan melakukan tugasnya dengan penuh kerendahan hati tanpa mengharapkan pujian dari manusia. (ayat 9 “Adakah ia berterimakasih kepada hamba itu,…”) Orang yang melayani dengan mengharapkan pujian, juga bisa saja nampak bersungguh-sungguh dalam melayani. Dan mungkin saja ia memang akan mendapat pujian dari manusia sebagai apresiasi atas apa yang telah dilakukannya. Tetapi ketika pujian seperti itu terus diterima... dimana pujian itu akan disimpan? Apakah dikembalikan kepada Tuhan yang layak untuk menerima pujian, atau disimpan untuk diri sendiri?

Dalam gereja ada banyak sekali hamba Tuhan atau pelayan Tuhan yang tanpa disadari sedang berdiri untuk melayani diri sendiri. Dan adakah upah kekal yang akan diterima kelak selain dari pujian manusia yang juga akan mati dengan semua pujiannya? Mulailah selidiki hati kita... Tuhan tidak menginginkan kelebihan dan kehebatan kita, Dia hanya menginginkan hati yang dipersembahkan bersama dengan seluruh hidup kita.

3. KETAATAN.
Ketaatan adalah hal yang harus dimiliki oleh seorang hamba kepada tuannya. Dan jika kita mengatakan kita adalah hamba Tuhan atau pelayan Tuhan berarti kita harus taat kepada tuan kita yaitu ALLAH.

Dalam buku “upah dari penghormatan” yang ditulis oleh JHON BEVERE dikatakan, jika seorang taat kepada ALLAH berarti dia juga harus taat kepada orang-orang utusan ALLAH, yaitu orang-orang yang diberi otoritas untuk menjadi pemimpin dimana saja kita berada termasuk dalam gereja kita. Dan seorang rekan hamba Tuhan mengatakan, “jangan melihat kepada siapa yang memimpinmu tetapi lihatlah kepada siapa yang diberi otoritas” Ini adalah hal menarik yang harus kita renungkan. Karena jika kita melihat kepada siapa yang memimpin kita, maka yang kita lihat adalah, orang ini lebih muda dari saya, orang ini punya masa lalu yang buruk sebelum Tuhan memulihkan hidupnya, orang ini tidak punya pendidikan yang tinggi dibandingkan dengan saya…. Tetapi jika kita melihat kepada siapa yang diberi otoritas untuk memimpin kita, maka kita harus melihat kepada siapa yang memberi otoritas itu, yaitu ALLAH sendiri. Dan taat kepada ALLAH adalah juga taat kepada orang yang diutus ALLAH untuk menjadi pemimpinmu, baik itu di gereja, kelompok doa atau kelompok kecil dalam pelayanan di tempat engkau melayani.

Inilah 3 hal yang harus kita renungkan agar dapat memberikan yang terbaik bagi Tuhan dalam pelayanan kita. Dan janji Tuhan bagi hamba yang melakukan tugasnya dengan baik ada dalam ayat 8 “… Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum…”

Allah tidak pernah mengabaikan kesetiaan orang yang melayani DIA. Segala pekerjaan dan kesetiaan kita ada dalam perhatian Allah (I Korintus 15:58)

Mari melayani dengan hati hamba. Miliki motivasi yang benar dalam melayani Tuhan, dan miliki ketaatan seorang hamba yang baik kepada tuannya. Taat kepada Allah dan kepada pemimpin yang ditunjuk Allah untuk memimpinmu.

Pastikanlah bahwa ketika engkau melakukan tugas pelayananmu, engkau sedang melakukannya bukan untuk memuliakan dirimu tetapi untuk memuliakan ALLAH. (PN)
Read More..

Minggu, 15 April 2012

Ibadah Yang Sejati

Ibadah bukan sebuah rutinitas keagamaan...

Roma 12:1
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itulah ibadahmu yang sejati.

Sejak kecil saya tinggal di sebuah lingkungan dengan masyarakat dari sebuah suku yang sangat rajin menjalani kegiatan ibadah. Dan bukan kebetulan pula tempat tinggal saya sangat dekat dengan sebuah gereja sehingga setiap hari minggu saya selalu menyaksikan banyaknya orang berbondong-bondong datang ke gereja untuk beribadah. Namun pada kesempatan lain saya pun menyaksikan bahwa ternyata orang-orang yang sama masih hidup dalam tradisi sukuisme dengan karakter, kebiasaan dan tutur kata yang sangat bertentangan dengan Firman Tuhan.
Saya kemudian menyadari bahwa ternyata menjalankan kewajiban atau rutinitas sebuah agama sangatlah mudah. Sangatlah mudah untuk bangun setiap hari minggu kemudian bersiap untuk beribadah. Atau mengikuti kegiatan-kegiatan rohani yang menunjukkan kesalehan kita. Dunia mungkin melihat dan memuji kesalehan itu, tetapi bagaimana dengan Allah? Puaskah Allah dengan cara ibadah yang demikian?

Roma 12:1 menjelaskan bahwa ternyata Ibadah bukan sekedar sebuah kegiatan atau rutinitas tetapi Ibadah yang sejati adalah kehidupan yang dipersembahan kepada Tuhan sebagai :

1. PERSEMBAHAN YANG HIDUP. Artinya bukan kekristenan yang suam-suam kuku (sebentar maju, sebentar mundur) atau kekristenan yang cacat (hanya setengah-setengah) juga bukan kekristenan yang mati (tidak mengalami kemajuan dalam iman). Tetapi sebuah kehidupan yang bertumbuh dan berbuah. Penuh semangat di dalam Tuhan, dan terus bergerak maju, menjadi mitra kerja Allah yang pantang mundur untuk menyelamatkan dunia dari kebinasaan.

2. PERSEMBAHAN YANG KUDUS. Artinya tidak menaklukan kehidupan kita pada keinginan daging (pikiran yang masih dipenuhi dengan hal-hal dosa, hati yang masih menyimpan dendam dan kepahitan, mulut yang masih sering mengeluarkan perkataan yang kotor dan sia-sia, dll) itu semua keinginan daging yang minta untuk dilayani, jika kita mengikuti keinginan itu berarti kita belum mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang kudus kepada Tuhan.

3. PERSEMBAHAN YANG BERKENAN KEPADA ALLAH. Yang berkenan kepada Allah adalah saat kita melakukan apa yang Dia kehendaki, bukan apa yang menjadi kehendak kita. Karena kita sering memberi sesuatu yang baik menurut diri kita sendiri tetapi ternyata bukan itu yang Tuhan mau (contoh : Raja Saul – I Samuel 15:21-22). Untuk mengetahui apa yang berkenan kepada Allah, perbanyak waktu untuk diam dalam hadirat Tuhan. Karena semakin sering kita ‘berduaan’ dengan Tuhan, semakin banyak isi hati-Nya yang akan Dia nyatakan kepada kita.

Ibadah bukan sebuah kewajiban, kebiasaan atau rutinitas. Tetapi kehidupan yang dipersembahkan kepada Tuhan. Kalau kita memberikan harta dan waktu kita untuk Tuhan, pasti masih ada yang bisa kita sisahkan untuk kebutuhan kita dan keluarga. Tetapi ketika kita mempersembahkan kehidupan kita, itu berarti total. Kita tidak bisa lagi menyisahkannya sedikit untuk melakukan keinginan kita. Karena semua sudah dipersembahkan kepada Tuhan. Itulah Ibadah yang sejati. Jbu (PN)
Read More..

Sabtu, 14 April 2012

KEKUATAN DALAM PENANTIAN

(Yesaya 40:29-31)
... tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru ... (ayat 31a)

Ada kekuatan bagi orang yang menantikan Tuhan. Sementara kita menanti, Dia mengalirkan kekuatan-Nya yang menjadikan manusia roh kita kuat.

Mengalami pasang surut dalam kehidupan rohani merupakan hal yang selalu dialami oleh banyak orang. Seseorang bisa saja memiliki semangat yang luar biasa pada hari ini, namun kemudian padam pada keesokan harinya. Bangsa Israel pun mengalami hal yang sama. Hari ini mereka percaya kepada Allah namun esok hari padam. Hari ini mereka bersyukur, esok hari mereka bersungut. Kehidupan yang keras dipadang gurun menjadi tantangan setiap hari terhadap keyakinan mereka kepada Allah.


Seperti halnya bangsa Israel, masalah dan kesulitan hidup dapat mengikis keyakinan kita akan kebesaran Allah. Kecemasan dan kekuatiran dalam pekerjaan, rumah tangga, study bahkan pelayanan dapat menekan kehidupan banyak orang dan melahirkan kekecewaan yang berujung pada keinginan untuk mengakhiri kehidupan. Hal itu terjadi karena kita kehilangan kekuatan pada manusia roh kita.

Seseorang tidak dapat hidup hanya dengan mengandalkan semangat rohani yang pernah didapatkan dahulu ketika menjadi petobat baru. Karena dalam jangka waktu tertentu semangat itu dapat berhenti sementara kehidupan terus berjalan. Cadangan kekuatan rohani kita pun perlu diisi terus setiap hari. Dan Allah mau memberikan kekuatan itu kepada kita (ayat 29). Namun kekuatan itu akan menggantikan segala kelemahan kita pada saat kita sedang menantikan Dia (ayat 31). Kita harus tetap menati-nantikan Tuhan untuk mendapat kekuatan-Nya. Karena sementara kita menanti, kekuatan itu akan terus mengalir menjadi kekuatan yang baru bagi manusia roh kita.

Lalu bagaimanakah hidup yang menantikan Tuhan? Menanti adalah sebuah sikap yang aktif bukan pasif. Lukas 12:35-43 mengajarkan saya tentang beberapa hal mengenai sikap hidup yang menantikan Tuhan.

1. Hendaklah pinggangmu tetap berikat (ayat 35). Adalah sikap yang siap untuk melakukan suatu pekerjaan/melayani. Melayani bukan sekedar mengeluarkan tenaga untuk bekerja, tetapi lebih kepada hati yang rela untuk melakukan sebuah pekerjaan.

2. Pelitamu tetap menyala (ayat 35b). Saya senang dengan lirik lagu yang dinyanyikan oleh Glen Latuihamalo “jadilah terang… jangan ditempat yang terang… jadilah terang, ditempat yang gelap..” Dunia disekeliling kita adalah tempat yang gelap dan disinilah tempat yang tepat bagi kita untuk menjadi terang. Sebuah titik yang putih akan nampak diantara secarik kertas yang hitam. Lakukanlah sedikit kasih diantara seribu kejahatan dalam dunia ini, maka dunia akan melihat perbedaan itu dan mempermuliakan Tuhan (baca Mat 5:14-16).

3. Berjaga-jaga (ayat 37). Seorang tentara yang berada dalam sebuah medan peperangan, pasti tidak akan pernah lengah. Karena sikap itu akan mencelakakan dirinya sendiri. Bukankah hidup kita juga adalah sebuah medan pertempuran? So… berjaga-jagalah dan berdoalah, miliki waktu khusus dengan Tuhan, karena pencobaan memiliki kuasa atas orang yang tidak menjaga kehidupan dalam doa dan persekutuan dengan Tuhan.

4. Memberi makan hamba-hambanya (ayat 42-43). Banyak orang disekeliling kita yang sedang lapar dan haus. Bukan hanya lapar dan haus akan makanan dan minuman, tetapi jiwa mereka dahaga akan sebuah kebenaran. Mereka mencari sebuah kebenaran yang tidak ditemukan diantara kemewahan hidup. Inilah tugas kita untuk memberi makan pada jiwa mereka. Jadikanlah penginjilan sebagai gaya hidup kita untuk dapat membawa orang pada kebenaran yang sesungguhnya.

Inilah 4 sikap yang harus kita miliki – melayani, menjadi saksi, berdoa, dan menginjili – sebagai bukti bahwa kita sedang menantikan Tuhan. Dan janji Tuhan, “orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru, … mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” Jangan berhenti menantikan Tuhan karena sementara kita menanti, kekuatan Allah akan terus mengalir dan menjadikan kita kuat. Haleluya! (PN)
Read More..

Jumat, 13 April 2012

KEGAGALAN


(Lukas 5:1-11)
"... telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau yang menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (ayat 5)

... rahasia Allah di balik kegagalanku...
Pernahkah anda mengalami kegagalan? Apakah kegagalan itu membuat anda kecewa? Atau kegagalan itu justru membuatmu semakin bergantung kepada Tuhan yang kemudian menjadikanmu seperti anak panah yang terus melejit semakin jauh untuk mencapai sasaran?.
Suatu ketika, Tuhan membawa saya pada sebuah pengalaman hidup yang membuat saya 'berkenalan' dengan apa yang disebut kegagalan. Kegagalan bisa merupakan awal dari keberhasilan yang tertunda, namun kegagalan pun bisa membuat seseorang enggan untuk kembali berkarya. Namun dari pengalaman hidup yang Allah izinkan terjadi dalam kehidupan saya, membuat saya kemudian memandang kegagalan itu sebagai bagian dari proses yang sedang Allah kerjakan untuk menciptakan manusia dengan kepribadian yang kuat di dalam Tuhan. Ya! Kemurnian dari kepribadian manusia, akan nampak setelah mengalami kegagalan.

Para nelayan yang ditemui Yesus di pantai danau Genesaret, adalah sekelompok orang yang saat itu sedang mengalami sebuah kegagalan. Kegagalan, yang tentunya mendatangkan kekecewaan, karena hal itu terjadi bukan karena mereka tidak bekerja; di ayat 5 jelaskan "... telah sepanjang malam kami bekerja keras" Hal itu menunjukkan bahwa mereka sudah berusaha dengan sekuat tenaga. Dan tragisnya lagi, kegagalan yang dialami adalah kegagalan dalam bidang yang menjadi keahlian mereka. Bisakah anda membayangkan seseorang yang begitu profesional dalam sebuah bidang pekerjaan, tiba-tiba menemui kegagalan ketika melakukan hal yang sama yang pernah mendatangkan kesuksesan baginya? Atau bisakah anda membayangkan seorang yang dengan sekuat tenaga bekerja dan berusaha, namun kemudian tidak melihat sedikit pun hasil dari apa yang diusahakan? Jika demikian, pantaskah jika orang kristen kecewa kepada Tuhan?

Banyak orang tidak lagi mau menjadi setia kepada Allah ketika mengalami kegagalan dalam hidupnya. Bahkan banyak kali kegagalan dijadikan alasan untuk tidak mau lagi berdoa, tidak mau lagi ke gereja, bahkan tidak sedikit yang akhirnya meninggalkan Allah karena kekecewaan akibat kegagalan dalam kehidupan. Hal ini dialami pula oleh Simon dan rekan-rekannya. Kegagalan dan keletihan karena bekerja keras sepanjang malam, sudah cukup untuk dijadikan alasan bagi sebuah kekecewaan. Sampai Yesus datang dan menyuruh mereka untuk kembali melakukan hal yang sama, yang sudah mereka lakukan 'sepanjang malam'. Ya! Yesus menyuruh mereka melakukannya sekali lagi! Mengapa demikian? Sederhana saja. Karena Yesus ingin mengajar mereka untuk tidak mudah menyerah pada kegagalan. Karena Dia justru akan memakai kegagalan itu untuk memperbaharui kehidupan mereka.

Ada 2 hal yang bisa kita pelajari lewat kegagalan. Pertama, adalah “Melibatkan Allah dalam kehidupan kita.” Keterlibatan Allah dalam kehidupan kita adalah hal yang sangat penting. Dan ketaatan pada perintah-Nyalah yang akan menjadi kunci dari keberhasilan (ayat 4-5) . Keinginan untuk mencapai kesuksesan cenderung membuat manusia terlalu sibuk dengan segala macam cara sehingga mengabaikan keterlibatan Allah. Kegagalan dizinkan terjadi untuk membuat kita sadar bahwa kekuatan dan kehebatan kita memiliki batas sedangkan kuasa Allah sempurna dan tidak terbatas.

Hal yang kedua, adalah prioritas dalam kehidupan orang percaya. Keberhasilan adalah hal yang menjadi harapan semua orang. Namun sisi buruk dari semua keberhasilan adalah ketika seseorang menjadi lupa diri dan mulai terikat dengan keberhasilan. Simon Petrus dan rekan-rekannya berhasil menangkap sejumlah besar ikan (ayat 6-7). Tetapi kemudian mereka memilih untuk mengikut Tuhan didalam keberhasilan mereka. Ayat 11… mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. Ya! mereka meninggalkan sejumlah besar ikan. Bukankah tadinya mereka telah bekerja keras sepanjang malam untuk mendapatkan ikan-ikan itu? Apa yang membuat mereka kemudian lebih tertarik mengikut Yesus dari pada ikan-ikan tersebut? Inilah prioritas dalam kehidupan orang percaya. Kegagalan bisa menjadi alat yang berkuasa di tangan Allah untuk membuat kita tahu menempatkan Allah sebagai yang utama dalam kehidupan kita.
Saudara, jangan kecewa dan berhenti untuk berkarya ketika kegagalan datang. Ayo bangkit! Dan tetaplah percaya kepada Tuhan. Mulailah untuk bertindak sesuai perintah Allah. Akuilah, bahwa terkadang keprofesionalisme dan kekuatan kita tak dapat sepenuhnya diandalkan. Allah memakai kegagalan bukan untuk menghancurkan kita, tetapi lewat kegagalan Dia menciptakan pribadi-pribadi yang kokoh dan siap dipakai untuk melakukan pekerjaan Allah yang dahsyat!
Jangan terlalu cepat membasuh jalamu. Sejumlah besar ikan masih banyak tersedia. Bertolaklah kembali dan tebarkan jalamu. Taatlah pada perintah Allah dan jadikan Dia yang utama dalam kehidupanmu. Maka keberhasilan akan membuat jalamu mulai koyak sehingga engkau akan takjub pada perbuatan Allah dan terus memuji Dia dalam hidupmu(ayat 6-9). Dan percayalah bahwa kehidupanmu akan menjadikan engkau saksi yang hidup bagi dunia, sehingga mereka pun akan percaya kepada Yesus (ayat 10). (PN)
Read More..

Rabu, 28 Maret 2012

Mengenal Musuh Kita

Setan pun merayakan Valentine Days!!!
(Matius 4:1-11, Lukas 4:13) Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-ngaum dan mencari orang yang dapat ditelannya ( 1 Petrus 5:8)
Tanggal 14 Pebruari yang dikenal sebagai valentine days, ternyata adalah ‘HARI PENGINJILAN ’ satanisme terbesar…

Modernisasi yang tengah melanda dan terjadi dalam dunia saat ini, merupakan hal yang sangat dinikmati oleh manusia. Sehingga apa yang dahulu merupakan kesulitan; mulai dari masalah makanan, kecantikan, hiburan, sampai masalah komunikasi, kini telah siap dengan cara-cara yang instant dan menggiurkan untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan manusia.

Tidak ketinggalan ‘si jahat’ pun ikut dalam sistem tersebut. Sadar atau tidak iblis pun tengah menampilkan dirinya dengan penampilan yang nampak ‘modern’ bahkan kelihatannya pun dapat ‘menjadi jawaban’ atas masalah kita. Tempatnya bukan lagi di kuburan atau ditempat-tempat gelap dengan wajah yang memiliki gigi taring yang mengerikan. Seorang mantan aliran ‘gereja setan’ mengatakan bahwa tanggal 14 Pebruari yang dikenal sebagai valentine days adalah ‘hari penginjilan’ satanisme terbesar karena pada hari itu mereka akan tersebar di mall-mall dengan tujuan menjaring anak-anak muda untuk menjadi pengikut mereka. Dan cara mereka dimulai dengan berkenalan dan mengajak anak-anak muda makan di restaurant yang mahal2. Hati-hati!!! Setan pun merayakan valentine days.

Iblis juga dapat memakai media-media bacaan atau televisi dengan menampilkan cerita tentang seorang anak yang bersahabat dengan tuyul yang baik hati atau seorang anak yang memiliki benda-benda ajaib yang dapat menjadi sumber pertolongannya. Sepintas bagi kita itu hanya sebuah cerita, tetapi kandungan dari cerita tersebut dapat menciptakan satu pola pikir bagi anak-anak bahwa setan memiliki sisi kehidupan yang baik dan dapat menjadi sahabat manusia. Bahkan banyak juga tayangan yang membuat orang dewasa pun dapat terkecoh dengan ramalan – ramalan nasib, jodoh dan keuntungan, dan juga cerita tentang orang-orang hebat yang memiliki ilmu putih untuk memberantas kejahatan. Sehingga timbullah pengertian bahwa ‘ilmu putih’ adalah baik dan benar. Wouw!!!

Yohanes 10:10 jelas mengatakan bahwa pencuri datang untuk mencuri, membunuh dan membinasakan. Jadi bagaimana pun penampilan ‘si jahat’ tujuannya adalah satu, yaitu membinasakan orang-orang percaya.

Ada 3 hal yang perlu kita waspadai untuk membungkam tipu muslihat si jahat.

1. MASALAH HIDUP Matius 4:2 … akhirnya laparlah Yesus. Iblis sangat lihai untuk memakai kelemahan kita. Dia akan menawarkan apa yang dia tahu menjadi kebutuhan kita saat itu. Terkadang kebutuhan makan, pakaian, kesehatan, jodoh dll menjadi masalah yang serius bagi orang percaya. Kehidupan yang menekan terkadang menimbulkan keraguan akan pemeliharaan Allah. Dan iblis mulai mengambil alih masalah ini. Orang-orang dekat yang ada disekeliling kita pun dapat dipakainya sebagai media untuk mempromosikan jalan keluar ala iblis. http://www.blogger.com/img/blank.gif

Saudara, jangan mudah menyerah oleh karena masalah dalam hidupmu belum terselesaikan. Jangan mengikuti nasihat ‘si jahat’ tetapi pandanglah terus kepada janji-janji Allah. ( Matius 6:25-34, I Petrus 5:7 )

2. FIRMAN TUHAN Matius 4:6 … sebab ada tertulis…. Iblis bisa memakai firman Tuhan untuk mengaburkan pandangan orang percaya. Fenomena-fenomena tentang kesembuhan dan penampakan pribadi Yesus yang banyak terjadi di beberapa daerah di Indonesia saat-saat ini, membuat banyak orang percaya berbondong-bondong datang ke tempat-tempat tersebut dengan tujuan ‘mencari Yesus’ Benarkah Yesus ada disana?
http://www.blogger.com/img/blank.gif
Saudara, ujilah segala sesuatu, agar hidupmu tidak gampang dikendalikan oleh si jahat. Karena segala tipu muslihat iblis memiliki tujuan untuk menyesatkan orang percaya. (I Tes 5:21), (Matius 24:4-5)

3. IDENTITAS SEBAGAI ORANG PERCAYA.
Perhatikan perkataan iblis, setiap kali hendak mencobai Yesus, selalu dimulai dengan perkataan “Jika Engkau Anak Allah”. Hal yang sama yang akan dia pakai untuk menjatuhkan orang percaya. Yaitu mencoba membuat kita ragu bahwa kita adalah anak-anak Allah. Ketika manusia mulai ragu dengan identitasnya dihadapan Allah maka itu adalah kesempatan iblis dia untuk melancarkan serangan berikutnya, yaitu mengikuti perintahnya. Jangan pernah ragu bahwa kita adalah anak-anak yang sudah ditebus oleh darah Yesus yang berkuasa. Dan seluruh kehidupan kita ada dalam tangan Tuhan. Tiga cara yang berbeda yang iblis gunakan untuk menjatuhkan Yesus. Saya menyebutnya dengan ‘anak panah beracun’. Hal ini menunjukkan bahwa iblis pun kreatif. Dia memakai segala cara dan tidak akan berhenti. Dia akan terus mencari cara untuk bisa menjatuhkan orang percaya (Lukas 4:13). Dalam setiap keadaan dia akan mencari cela untuk menggugurkan keyakinan kita kepada Allah.
Saudara, waspadalah! Iblis memiliki banyak ‘anak panah beracun’ untuk menebus medan pertahanan kita.. Dia tidak pernah diam sebelum mencapai tujuannya. (I Petrus 5:8) Hanya orang-orang yang tekun dalam doa, hidup dalam penyembahan kepada Allah setiap hari, taat pada perkataan firman Allah dan selalu memandang pada salib, akan keluar sebagai pemenang! ( I Tes 5:6-8,16-22). (PN)
Read More..

Perkara Kecil Menyatakan Kuasa Besar

Jangan mengabaikan hal-hal kecil yang Tuhan berikan kepadamu dan jangan menolak perkara kecil yang Tuhan mau engkau kerjakan. Karena semua itu adalah awal dari perkara besar yang akan Tuhan nyatakan dalam hidupmu.

Yang paling sering diabaikan dan tidak mendapat perhatian dalam kehidupan kita adalah sesuatu yang kita anggap “kecil dan tidak berarti” Namun demikian, Allah kita adalah Allah yang besar yang dapat menyatakan kuasa-Nya melalui hal-hal yang kecil.


I. YANG KECIL YANG MENJADI BERKAT (Matius 14:13-21) Yesus memakai lima roti dan dua ikan untuk memberi makan lima ribu orang. Ketika Yesus menyuruh para murid memberi orang banyak itu makan, mereka berkata “Yang ada pada kami di sini HANYA lima roti dan dua ikan” Tetapi apa kata Yesus? “BAWALAH KEMARI KEPADAKU”. Terkadang kita pun demikian, merasa sangat kecil dan tidak memiliki apa-apa untuk dapat memberkati dunia ini padahal dunia saat ini sangat membutuhkan kita. Yesus berkata "apa yang ada pada kamu, bawalah kemari kepada-Ku" Jangan takut jika engkau hanya memiliki “lima roti dan dua ikan” (sangat terbatas dalam segala hal) Yang perlu kita lakukan adalah menyerahkannya kepada Tuhan, dan ditangan-Nyalah semua akan diubahkan dan dilipatgandakan untuk menjadi berkat bagi dunia ini.

II. YANG KECIL YANG MENDATANGKAN BERKAT (I Raja-raja 17:7-16) Janda di Sarfat kemudian melihat dan menikmati berkat Tuhan dalam hidupnya. Tetapi semua dimulai dari ketaatannya kepada perkataan Elia “… buatlah TERLEBIH DAHULU bagiku sepotong roti bundar KECIL dan BAWALAH KEPADAKU,…”. Mendahulukan Tuhan lewat hal-hal yang kecil akan melatih kita untuk lebih setia melalukan hal besar. Bagaimana dengan pelayanan yang selama ini Tuhan percayakan kepada saudara? Kesetiaan pada hal-hal yang kecil dalam pekerjaan Tuhan, akan menyentuh hati Allah untuk memberkati saudara. Allah tidak meminta yang besar, Dia akan mulai dari ketaatan kita pada hal-hal yang kecil. Perkara yang besar tidak akan dipercayakan kepada kita, sampai Dia melihat bahwa kita telah setia pada hal-hal yang kecil. Mari belajar untuk mendahulukan Tuhan sekalipun itu hanya lewat “sepotong roti bundar yang kecil” . Dan kita akan melihat betapa Allah memperhitungkan “yang kecil” yang kita kerjakan “terlebih dahulu” bagi Dia.


III. YANG KECIL YANG MENYATAKAN KUASA ALLAH (I Samuel 17:40-58) Daud mengalahkan Goliat hanya dengan “sebuah batu kecil” Mengapa bisa terjadi? Karena Daud mengenal betul siapa Allah yang dia percaya. Daud berkata “… tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam…” Dan akhirnya ALLAH YANG BESAR memakai “BATU KECIL + DAUD KECIL” untuk mengalahkan musuh!.
Musuh sebesar apa yang sedang saudara hadapi saat ini. Bukankah yang kecil bagi dunia ini akan dipakai oleh Tuhan untuk mengalahkan yang hebat? Jangan mengatakan engkau kecil dan menjadi takut dengan pergumulan besar, karena bersama dengan engkau yang kecil ada ALLAH YANG BESAR! (PN)

Read More..

Selasa, 27 Maret 2012

PRIORITAS dalam kehidupan orang percaya


Matius 9:35-38 Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. (ayat 36)

Melihat musibah yang terjadi hari-hari ini, entahkah itu karena kejadian alam ataupun karena keteledoran manusia, seharusnya membuat kita tersadar bahwa kehidupan manusia itu benar-benar adalah sebuah misteri yang tidak dapat ditebak kapan waktunya. Bencana-bencana yang terjadi telah membawa serta banyak orang… entahkah tua, muda, orang dewasa atau anak-anak. Yang pasti musibah itu merupakan bencana yang merenggut banyak jiwa. Dan yang menjadi pertanyaan penting adalah apakah mereka yang tiba-tiba “pergi” telah membawa nama Yesus, sehingga mereka diselamatkan? Ataukah mereka “pergi” tanpa pernah mendengar tentang Yesus.

Dalam Matius 9:36, Yesus mengatakan mereka seperti domba yang tidak bergembala… domba yang tidak tahu dimana harus mendapatkan air yang tenang dan padang dengan rumput yang hijau. Ya, mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui jalan kebenaran dan hidup. Dan selanjutnya Yesus mengatakan mereka adalah “tuaian yang banyak… yang sudah siap untuk dituai, tetapi pekerjanya sedikit, sehingga tuaian itu akhirnya membusuk alias binasa tanpa pernah mendengar tentang Yesus.
Sadar atau tidak kita sedang berada dalam dunia pertarungan dengan iblis untuk merebut jiwa-jiwa terse but. Ketika kita mengabaikan tugas kita untuk memenangkan mereka, maka iblislah yang akan mencari dan menemukan mereka. Bukankah dunia pun sedang gencar-gencarnya memberikan tawaran bagi orang-orang yang hidup dalam kekecewaan, putus asa dan depresi? Sehingga banyak orang menganggap bahwa tanpa Yesus pun mereka bisa tertawa dan dapat memiliki kehidupan yang aman-aman saja. Namun sebagai orang-orang percaya yang telah mengetahui bawah dibawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehnya manusia dapat diselamatkan selain nama Yesus (Kisah 4:12), seharusnya memiliki beban dan belas kasihan seperti Yesus (Mat 9:36) agar dengan beban dan belas kasihan inilah orang percaya mulai bergerak untuk memberitakan nama Yesus sehingga banyak jiwa dapat diselamatkan. Karena jika apa yang menjadi bagian kita tidak kita kerjakan, maka iblis akan menggunakan peluang. Iblis tidak mau tahu seberapa aktifnya kita melayani, seberapa lamanya kita beribadah dan seberapa hebohnya kita melompat dalam setiap KKR. Iblis pun tidak mau peduli seberapa banyak gereja – gereja besar yang ada dalam sebuah kota. Selama kita tidak memberitakan injil, maka selama itu pula dia bebas untuk memperlebar kerajaannya di dunia.

Sebuah keluarga tidak dapat diselamatkan hanya karena seorang istri atau suami yang selalu berada di luar rumah dalam kesibukan kegiatan pelayanan. Dan juga lingkungan bahkan kota dimana kita berada pun tidak dapat diselamatkan hanya karena di kota tersebut terdapat banyak gereja – gereja besar yang hanya sibuk memikirkan program gerejanya, tetapi tidak pernah memberitakan injil.
Iblis hanya menjadi gemetar ketika nama Yesus diberitakan lewat pekabaran injil. Ketika orang-orang percaya mulai menggunakan kuasa nama Yesus dalam pemberitaan injil, maka saat itulah kerajaan iblis akan diporakporadakan. Dan iblis tahu akan kelemahannya, sehingga dia pun mulai melemparkan senjata rahasianya untuk membuat orang-orang Kristen tidak memberitakan injil yaitu dengan “MENGABURKAN PRIORITAS ORANG PERCAYA”. Karena hanya dengan membuat orang percaya tidak menyadari bahwa dunia membutuhkan Yesus akan membuat penginjilan tidak menjadi prioritas bagi orang percaya.
Kita harus menyadari bahwa iblis sedang bekerja membuat pandangan serta pengertian kita dikaburkankan dengan membuat orang-orang Kristen sibuk dengan berbagai hal dan melupakan apa yang menjadi prioritas sebagai orang percaya.Bahkan pelayanan pun dapat menjadi senjata iblis untuk membuat prioritas itu terabaikan. Orang Kristen merasa puas ketika merasa dirinya adalah fulltimer, aktivis, yang setiap hari ada dalam tembok gereja tanpa menyadari bahwa diluar tembok ada banyak jiwa yang belum diselamatkan.
Kalau setiap gereja Tuhan menyadari apa sesungguhnya yang menjadi kebutuhan utama dunia ini, maka seharusnya amanat agung Yesus sebelum naik ke surga (Matius 28:19) seharusnya menjadi prioritas bukannya segala program dan kegiatan yang tujuanya hanya untuk melayani diri sendiri. Dalam keluarga – keluarga Kristen, suami / Istri merasa puas ketika dia selesai dengan kesibukan dan tanggungjawabnya untuk menafkahi keluarga, tanpa menyadari bahwa Allah pun menciptakan mereka untuk karya penyelamatan dunia.

Ketika melihat orang banyak yang terlantar seperti domba yang tidak memiliki gembala, tergeraklah hati Yesus dengan belas kasihan karena Yesus tahu apa yang menjadi kebutuhan mereka. Maka Yesus mengatakan “tuaian banyak” tetapi “pekerja sedikit”. Kenapa pekerjanya bisa sedikit? Pertanyaan yang sama dapat ditujukan untuk kita saat ini. Apakah jumlah orang Kristen dalam dunia ini begitu sedikit sehingga tidak dapat menuai, sementara ada begitu banyak tuaian? Kurang banyakkah gereja-gereja Tuhan pada zaman ini? Apakah terlalu sedikit jumah 4 orang dalam sebuah keluarga untuk menuai 1orang PRT??. Yang terjadi sebenarnya adalah bukan jumlah orang Kristen yang sedikit tetapi orang Kristen sedang lupa pada prioritasnya sebagai orang percaya. Kalau masih banyak PRT yang belum mendengar tentang Yesus, itu karena “penuai” dalam rumah itu tidak ada… lagi sibuk semua!!!

Yesus kemudian mengatakan “mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu”
Bagi seorang tuan yang sedang mencari pekerja untuk bekerja kepadanya, baik dalam sebuah perusahaan besar, toko atau bahkan diperkebunan dan sawah sekali pun, tentu akan mencari pekerja-pekerja yang berkualitas dan dapat dipercaya untuk menyelesaikan tugasnya.
Dunia yang penuh dengan tuaian membutuhkan orang-orang Kristen yang siap untuk menuai.

Pertama, Memiliki integritas yang tinggi. Yang tau apa yang menjadi prioritas, rajin dan memiliki komitmen dan semangat untuk melakukan tugasnya sekalipun didalamnya ada banyak tantangan yang akan dihadapi. Yang setia, dan tidak suka mengeluh, siap memberi lebih banyak, dari pada menerima.

Kedua, Memiliki kasih dan beban terhadap jiwa-jiwa. Karena tanpa kasih segala pelayanan akan menjadi sebuah keharusan yang pada akhirnya menjemukan.

Ketiga, Memiliki kerendahan hati. Dan siap untuk dibentuk.

Mau atau tidak mau seharusnya semua gereja Tuhan harus siap untuk melakukan tugas ini. Memastikan diri sebagai pekerja yang akan dipilih dan dipakai Tuhan untuk menuai. Program dan kesibukan dalam pelayanan itu baik, tetapi terkadang kesibukan membuat kita kehilangan beban terhadap jiwa-jiwa. Dan hal inilah sebenarnya yang membuat Yesus berkata “pekerja sedikit”. Bukan berbicara tentang jumlah, tetapi tentang prioritas yang kabur dalam gereja Tuhan. Mari kita menyadari hal ini dan mulai menjadikan penginjilan sebagai prioritas agar kebutuhan dunia dapat terjawab. (PN)

Read More..

Senin, 26 Maret 2012

TEMPAT YANG TEPAT


Setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya supaya ia lebih banyak berbuah (Yohanes 15:1-2)

Setiap orang tentu tidak ingin bertemu dengan masalah. Semua menginginkan kehidupan yang aman-aman saja tanpa kesulitan.

Ada orang yang cukup bijak yang selalu berusaha untuk menjalani hidup dengan baik, menempuh jalan yang aman, agar terhindar dari masalah.

Atau mungkin selama ini kita merasa telah melayani Dia dengan sangat baik, hidup dijalan yang benar sesuai dengan Firman Tuhan, jadi pantaslah jika tidak memiliki masalah dalam kehidupan.

Tetapi jika suatu saat ketika Allah mengizinkan masalah itu datang, apa tindakan kita? Bagi saya saat ini, MASALAH ADALAH TEMPAT YANG TEPAT UNTUK MELIHAT ALLAH DENGAN LEBIH JELAS. Oleh sebab itu jangan meremehkan masalah yang ada. Jika Allah mengizinkan masalah itu ada, itu karena ada sesuatu yang sedang Ia persiapkan dalam kehidupan kita.

Mungkin kita akan bertanya, mengapa harus lewat masalah? Karena jika kehidupan berjalan dengan tenang, aman dan penuh dengan berkat, maka hidup kita hanya terfokus pada berkat-berkat Allah dan tidak kepada sumber berkat itu. Bahkan ada kalanya tanpa kita sadari, justru berkat-berkat itu telah menjadi ‘berhala’ yang telah menyita waktu, pikiran, tenaga bahkan seluruh hidup kita.

Untuk itulah Allah kemudian memisahkan kita dan membawa kita ke sebuah tempat yang bernama “Masalah”. Dan disanalah proses pembersihan itu Dia kerjakan. Kadang terlalu sulit untuk mengerti cara Allah mencintai kita. Seakan masalah hidup akan membawa kita pada kehancuran padahal sesungguhnya itu adalah saat dimana Allah dengan kasih dan setia-Nya sedang membersihkan hidup kita dari hal-hal yang tidak berkenan kepada Dia.

Firman Tuhan mengatakan, ranting yang sudah berbuah tetap akan dibersihkan supaya ia dapat menghasilkan buah yang lebih banyak lagi. Dan selama ranting itu masih melekat pada pokok anggur yang memberinya kehidupan, maka proses pembersihan itu tidak akan membuatnya menjadi kering apalagi mati.

Tidak penting besar atau kecilnya masalah yang sedang kita hadapi saat ini. Yang terpenting adalah kepada siapa kita melekat. Selama kehidupan kita melekat menjadi satu dengan Allah sumber kehidupan itu maka jangan kuatir menghadapi proses pembersihan yang sedang Dia kerjakan.

Mungkin “tempat” dimana engkau berada saat ini sangat tidak nyaman, karena disana engkau merasa sendiri, merasa tertolak, harus menangis, bahkan mungkin menjerit “dimanakah Tuhan?”

Percayalah bahwa “tempat” yang tidak nyaman bagimu saat ini adalah tempat yang sangat tepat untuk engkau dapat melihat Allah dengan lebih jelas lagi.Mulailah tenang dan biarkan Dia menyelesaikan rencana-Nya dalam hidupmu.(PN)

Read More..

Minggu, 25 Maret 2012

Yang Terbaik Hanya Bagi Dia


Lukas 7:44 ... "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberi Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.


Melakukan yang terbaik bagi Tuhan membutuhkan sebuah komitmen, karena didalamnya pasti ada pengorbanan dan disaat kita mulai melakukannya kita akan diperhadapkan dengan berbagai tantangan. Dan saat itulah kesetiaan kita kepada Tuhan akan teruji.


Ketika Yesus berada dalam sebuah undangan makan, Ia dikelilingi oleh banyak orang. Ada orang-orang Farisi, golongan yang sangat berpengaruh dan berpegang teguh pada hukum taurat. Ada juga para murid Yesus, kelompok yang sangat dekat dengan Yesus, yang setiap hari melayani bersama Yesus, dan setiap saat menyaksikan banyak mujizat yang Yesus lakukan. Lalu masuk pula seorang wanita yang dikenal sebagai wanita yang berdosa, yang terhina dan sangat dikucilkan oleh masyarakat pada jaman itu. Namun berbeda dengan semua orang yang ada di tempat itu, karena wanita ini datang bukan untuk memenuhi undangan makan dan bergabung dengan ‘orang-orang terpelajar’ di tempat itu. Tetapi dia datang khusus untuk mencari Yesus. Mengingat bahwa wanita ini “terkenal sebagai orang berdosa” (ayat 37) sudah tentu setiap orang yang melihat kehadirannya akan bertanya-tanya, apa tujuan dia datang ke tempat itu. Bukankah yang berada saat itu adalah orang-orang farisi dan para murid Yesus yang pasti bagi sebagian orang mereka adalah orang-orang yang saleh dan terpelajar. Dan apakah wanita ini tidak malu berada diantara mereka? Namun itulah yang terjadi “ketika dia mendengar Yesus ada ditempat itu, dia datang untuk mencari Yesus. Dan ia tidak datang dengan tangan kosong tetapi membawa buli-buli berisi minyak wangi yang telah dipersiapkan dari rumahnya. Bisa dibayangkan bagaimana ramainya keadaan jamuan makan saat itu. Semua orang pasti asyik menikmati suasana. Namun hal itu tidak membuat wanita ini kehilangan focus pada tujuannya. Ditengah-tengah segala keramaian yang ada, wanita ini tetap pada tujuan kedatangannya, yaitu YESUS. Dia masuk dan mengambil tempat yang paling dekat dengan Yesus yaitu di kaki-Nya. Sebuah tempat yang sama sekali tidak menjadi pilihan dari orang-orang yang lebih dahulu ada di sana. Semua orang memilih untuk duduk “sejajar” dengan Yesus, tetapi wanita ini memilih untuk duduk di “dekat kaki Yesus”. Dan sementara semua orang sedang menikmati makan dan minum, wanita ini mulai membasahi kaki Yesus dengan air matanya bahkan menyekanya dengan rambutnya. Dan sementara orang-orang menantikan kalau saja Yesus akan melakukan mujizat, wanita ini mulai memecahkan buli- buli dan menuangkan minyak wangi di kaki Yesus. Ya.. disaat semua orang menunggu untuk memperoleh “sesuatu” dari Yesus, wanita ini malah “berkorban” bagi Yesus. Bahkan wanita ini memberikan yang terbaik dari apa yang dia miliki, yaitu minyak wangi yang mahal harganya. Renungkan bagian ini… dan pastikanlah di posisi mana kita berada saat ini. Apakah kita sedang asyik menikmati “jamuan makan dan minum” dari berkat-berkat yang Tuhan berikan bagi kita? Atau kita sedang menjadi “penonton” melihat mujizat Allah – tanpa pernah mengalaminya. Belajar pada wanita ini, dia datang dengan kerinduan hatinya, dia mengambil tempat duduk dari kerendahan hatinya, dan dia berkorban dengan ketulusan hatinya. Banyak orang bisa memberi dan melakukan apa saja untuk Tuhan. Tetapi berani berkorban bagi Tuhan hanya dapat dilakukan oleh orang yang hatinya benar-benar melekat kepada Dia. Hal yang sederhana saja, beranikah kita mengambil waktu ‘berharga’ yang biasa kita habiskan untuk diri kita sendiri atau untuk bersenang-senang, dan memakainya untuk Tuhan? Melakukan yang terbaik bagi Tuhan membutuhkan sebuah komitmen. Karena di dalamnya pasti ada pengorbanan dan disaat kita mulai melakukannya kita akan diperhadapkan dengan berbagai tantangan. Baik tantangan dari orang-orang disekitar kita maupun dari diri kita sendiri. Wanita ini memiliki komitmen yang teguh, sehingga ketika semua orang menunjukkan sikap yang tidak senang terhadap apa yang dia lakukan, wanita ini memilih untuk tetap diam dan terus melayani Yesus. Simon, si Farisi tidak mendapat pujian dari Yesus, padahal dia yang mengundang Yesus makan dirumahnya. Hati Yesus lebih tersentuh dengan pelayanan seorang wanita yang dianggap berdosa oleh orang-orang di tempat itu. Mungkin saat ini, kita sedang melakukan banyak hal dalam pelayanan, dan dengan berbangga hati kita menganggap telah berhasil mengambil hati Tuhan. Ingat, wanita ini mendapat perhatian dari Yesus bukan karena ‘minyak wanginya’ tetapi karena hatinya yang mengasihi dan mau berkorban untuk memberi yang terbaik yang dimilikinya bagi Tuhan. Memberi yang terbaik bagi Tuhan adalah sebuah pilihan. Mulailah melakukannya hari ini, atau engkau tidak akan pernah melakukannya…. (PN)
Read More..

Jumat, 23 Maret 2012

TERUSLAH BERSERU sampai Dia menjawab doa-Mu...


Matius 15:21-28
Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya?”
(Lukas 18:7a)


Berdoalah sampai sesuatu terjadi…

Banyak orang datang kepada Yesus untuk menyampaikan apa yang menjadi kebutuhan mereka tetapi tidak semua orang dapat bertahan dalam menanti jawaban Tuhan. Apalagi jika harus melewati tantangan... tantangan waktu, harga diri, atau pun orang-orang dekat yang nampak sama sekali tidak mendukung. Hal-hal ini dapat membuat kita patah semangat, memilih untuk mundur bahkan mungkin mulai berpikir untuk mencari jalan keluar… selain Yesus.

Wanita Kanaan dalam Matius 15:21-28 memiliki pergumulan berat. Dia adalah seorang wanita yang berasal dari bangsa yang tidak percaya kepada Yesus. Tetapi waktu dia mengetahui Yesus ada didaerahnya, wanita ini datang dan mulai berseru kepada Yesus. Hanya satu yang dia inginkan, yaitu anaknya sembuh. Tetapi tidak semudah yang mungkin dia bayangkan… karna ternyata, Yesus sama sekali tidak menjawab seruannya… bahkan mungkin saja saat itu Yesus tidak menengok sedikit pun pada wanita ini. Ditambah lagi dengan sikap murid-murid yang malah meminta Yesus agar menyuruh wanita ini pergi, karena merasa terganggu dengan teriakannya.

Hari-hari ini, disaat kita mengalami pergumulan berat, terkadang justru hadir orang-orang yang sepertinya bisa memberi jalan keluar, tetapi sesungguhnya mereka sementara membuat kita menjadi lemah dalam pengharapan kepada Tuhan. Tanpa disadari sikap dan keinginan mereka sebenarnya bertujuan untuk meminta kita berhenti saja berharap dan lebih baik mencari jalan keluar yang lain yang lebih aman tanpa harus capek berseru-seru kepada Tuhan, karena masalah yang kita hadapi sangat besar dan seakan mustahil untuk terus berharap kepada Tuhan dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menanti. Ya! Orang-orang tersebut seperti murid-murid Yesus yang sebenar merasa terganggu “kenyamannya” karena melihat keteguhan wanita ini dalam menanti pertolongan Tuhan.

Namun diperlakukan demikian tidak membuat wanita ini berhenti, bahkan disaat Yesus sendiri menyatakan bahwa Dia datang hanya untuk umat Israel pun, tetap membuat wanita ini pantang mundur (ayat 24). Dia malah semakin mendekati dan menyembah Yesus sambil berkata “Tuhan, tolonglah aku”. Tetapi Yesus malah menjawab “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Seakan Yesus mau mengatakan, “kuasa yang ada pada-KU ini hanya untuk "anak-anak" yaitu mereka yang pantas menerimanya, sedangkan kamu itu hanyalah seekor anjing. Pantaskah Aku memberikannya kepadamu?”

Sebenarnya inilah titik dimana wanita ini harus mundur dan berhenti berharap. Karena Yesus sendiri sudah mengatakan bahwa “tidak patut” engkau mendapat pertolongan itu, karena yang ada pada-Ku milik “anak-anak” dan bukan “anjing”.

Namun perkataan yang sangat “menghinakan” itu diterima olehnya bahkan dengan merendahkan dirinya ia berkata “ benar Tuhan, namun ANJING ITU makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya”(ayat 27).

Perhatikan, perkataan wanita ini “ANJING ITU!”. Seakan dialah anjing itu yang bersedia memakan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya, dan percaya bahwa walaupun hanya remah-remah… tetapi kalau itu berasal dari Yesus maka itu pun akan sanggup untuk menjawab apa yang menjadi kebutuhannya.
Wanita ini bersedia merendahkan dirinya karena dia memiliki iman yang sungguh bahwa Yesus sanggup untuk menjawab pergumulannya. Dia tidak mudah menyerah, dia tidak mundur, dan tidak pergi sebelum pergumulannya terjawab.

Dan akhirnya Yesus mengakui keteguhan wanita ini, kemudian berkata “ Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki.”

Saudara, sampai sejauh mana engkau berseru kepada Tuhan untuk pergumulan yang sedang engkau hadapi? Dan ketika engkau merasa banyak orang tidak mendukungmu untuk terus berharap, bahkan mungkin Yesus pun seakan “tetap diam.” Apa yang engkau lakukan? Mundur… kecewa… dan tidak mau lagi berharap???

Kalau wanita Kanaan yang berasal dari bangsa yang tidak percaya saja bisa menyentuh hati Yesus karena keyakinan dan keteguhannya, apalagi kita yang adalah anak-anak-Nya yang telah ditebus dengan darah-Nya yang kudus. Tidakkah ia akan menjawab seruan doa kita.?
Jangan pernah berhenti berseru… sampai Dia memberikan belas kasihan-Nya dan menjawab doamu.(PN)

Read More..