span.fullpost {display:inline;}

Sabtu, 14 April 2012

KEKUATAN DALAM PENANTIAN

(Yesaya 40:29-31)
... tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru ... (ayat 31a)

Ada kekuatan bagi orang yang menantikan Tuhan. Sementara kita menanti, Dia mengalirkan kekuatan-Nya yang menjadikan manusia roh kita kuat.

Mengalami pasang surut dalam kehidupan rohani merupakan hal yang selalu dialami oleh banyak orang. Seseorang bisa saja memiliki semangat yang luar biasa pada hari ini, namun kemudian padam pada keesokan harinya. Bangsa Israel pun mengalami hal yang sama. Hari ini mereka percaya kepada Allah namun esok hari padam. Hari ini mereka bersyukur, esok hari mereka bersungut. Kehidupan yang keras dipadang gurun menjadi tantangan setiap hari terhadap keyakinan mereka kepada Allah.


Seperti halnya bangsa Israel, masalah dan kesulitan hidup dapat mengikis keyakinan kita akan kebesaran Allah. Kecemasan dan kekuatiran dalam pekerjaan, rumah tangga, study bahkan pelayanan dapat menekan kehidupan banyak orang dan melahirkan kekecewaan yang berujung pada keinginan untuk mengakhiri kehidupan. Hal itu terjadi karena kita kehilangan kekuatan pada manusia roh kita.

Seseorang tidak dapat hidup hanya dengan mengandalkan semangat rohani yang pernah didapatkan dahulu ketika menjadi petobat baru. Karena dalam jangka waktu tertentu semangat itu dapat berhenti sementara kehidupan terus berjalan. Cadangan kekuatan rohani kita pun perlu diisi terus setiap hari. Dan Allah mau memberikan kekuatan itu kepada kita (ayat 29). Namun kekuatan itu akan menggantikan segala kelemahan kita pada saat kita sedang menantikan Dia (ayat 31). Kita harus tetap menati-nantikan Tuhan untuk mendapat kekuatan-Nya. Karena sementara kita menanti, kekuatan itu akan terus mengalir menjadi kekuatan yang baru bagi manusia roh kita.

Lalu bagaimanakah hidup yang menantikan Tuhan? Menanti adalah sebuah sikap yang aktif bukan pasif. Lukas 12:35-43 mengajarkan saya tentang beberapa hal mengenai sikap hidup yang menantikan Tuhan.

1. Hendaklah pinggangmu tetap berikat (ayat 35). Adalah sikap yang siap untuk melakukan suatu pekerjaan/melayani. Melayani bukan sekedar mengeluarkan tenaga untuk bekerja, tetapi lebih kepada hati yang rela untuk melakukan sebuah pekerjaan.

2. Pelitamu tetap menyala (ayat 35b). Saya senang dengan lirik lagu yang dinyanyikan oleh Glen Latuihamalo “jadilah terang… jangan ditempat yang terang… jadilah terang, ditempat yang gelap..” Dunia disekeliling kita adalah tempat yang gelap dan disinilah tempat yang tepat bagi kita untuk menjadi terang. Sebuah titik yang putih akan nampak diantara secarik kertas yang hitam. Lakukanlah sedikit kasih diantara seribu kejahatan dalam dunia ini, maka dunia akan melihat perbedaan itu dan mempermuliakan Tuhan (baca Mat 5:14-16).

3. Berjaga-jaga (ayat 37). Seorang tentara yang berada dalam sebuah medan peperangan, pasti tidak akan pernah lengah. Karena sikap itu akan mencelakakan dirinya sendiri. Bukankah hidup kita juga adalah sebuah medan pertempuran? So… berjaga-jagalah dan berdoalah, miliki waktu khusus dengan Tuhan, karena pencobaan memiliki kuasa atas orang yang tidak menjaga kehidupan dalam doa dan persekutuan dengan Tuhan.

4. Memberi makan hamba-hambanya (ayat 42-43). Banyak orang disekeliling kita yang sedang lapar dan haus. Bukan hanya lapar dan haus akan makanan dan minuman, tetapi jiwa mereka dahaga akan sebuah kebenaran. Mereka mencari sebuah kebenaran yang tidak ditemukan diantara kemewahan hidup. Inilah tugas kita untuk memberi makan pada jiwa mereka. Jadikanlah penginjilan sebagai gaya hidup kita untuk dapat membawa orang pada kebenaran yang sesungguhnya.

Inilah 4 sikap yang harus kita miliki – melayani, menjadi saksi, berdoa, dan menginjili – sebagai bukti bahwa kita sedang menantikan Tuhan. Dan janji Tuhan, “orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru, … mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” Jangan berhenti menantikan Tuhan karena sementara kita menanti, kekuatan Allah akan terus mengalir dan menjadikan kita kuat. Haleluya! (PN)