span.fullpost {display:none;}

Senin, 16 April 2012

HATI HAMBA

Lukas 17:7-10 Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” (Ayat 10)

Menjadi seorang hamba tidaklah berarti menjadi seorang yang hanya tunduk pada tuannya tanpa memahami arti dari menundukkan itu sendiri. Karena mudah saja bagi seseorang menunjukkan sikap tunduk tetapi kemudian apa yang dikerjakan sebenarnya,hanyalah untuk mendapatkan sesuatu bagi dirinya sendiri. Dan celakanya adalah bahwa ketika apa yang diinginkan itu tidak diperoleh maka timbullah kekecewaan, dan rupa-rupa protes bahkan mungkin saja berakhir pada pemberontakan.

Dalam gereja pun banyak ditemui gejala-gejala seperti ini. Dengan motivasi untuk menunjukkan kelebihannya, talentanya, atau hal-hal yang lain yang mendatangkan keuntungan bagi dirinya sendiri, dapat membuat seorang pelayan atau hamba Tuhan seakan sedang melayani Tuhan dengan penuh kerendahan hati. Namun suatu saat kemurnian hati sebagai seorang hamba itu akan nampak ketika ada sesuatu yang membuatnya kecewa. Timbulah sungutan, protes dan bahkan mungkin juga keputusan untuk meninggalkan pelayanan dengan membawa kepahitan.


Lukas 17 ayat 10 katakan, Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

Berdasarkan ayat diatas ada beberapa hal yang perlu kita renungan agar kita dapat menjadi seorang yang benar-benar memiliki hati hamba dan memberikan yang terbaik bagi Tuhan.

1. Selidikilah apa sesungguhnya yang menjadi alasan bagi kita dalam melayani Tuhan. Apakah karena tuntutan tugas dalam gereja, atau sekedar mengisi kekosongan.. atau karena uang, atau seribu alasan lain yang bertujuan untuk memuaskan diri kita sendiri? Orang yang mengisi kekosongan waktunya dengan melayani, pada awalnya akan nampak memiliki kesungguhan. Tetapi waktu akan membuktikan bahwa orang-orang yang demikian tidak akan bertahan lama, karena kejenuhan akan membuatnya mulai mencari kesibukan lain untuk mengisi waktu yang kosong. Demikian juga dengan orang yang melayani karena uang. Tingkat kehidupan manusia yang beraneka ragam akan membuat manusia tidak pernah dipuaskan dengan apa yang dimiliki. Dan orang-orang yang tidak memiliki karakter yang kuat, akan mudah menukar apapun demi kebutuhan hidup.

Satu-satunya alasan yang paling tepat, yang harus dimiliki dalam melayani oleh setiap orang yang menamakan dirinya hamba Tuhan atau pelayan Tuhan adalah karena kesadaran bahwa dirinya adalah seorang hamba yang tidak punya hak lagi atas dirinya tetapi hanya melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan (ayat 10 “… kami hanya melakukan apa yang kami harus lalukan”.)

2. Seorang yang memiliki hati hamba akan melakukan tugasnya dengan penuh kerendahan hati tanpa mengharapkan pujian dari manusia. (ayat 9 “Adakah ia berterimakasih kepada hamba itu,…”) Orang yang melayani dengan mengharapkan pujian, juga bisa saja nampak bersungguh-sungguh dalam melayani. Dan mungkin saja ia memang akan mendapat pujian dari manusia sebagai apresiasi atas apa yang telah dilakukannya. Tetapi ketika pujian seperti itu terus diterima... dimana pujian itu akan disimpan? Apakah dikembalikan kepada Tuhan yang layak untuk menerima pujian, atau disimpan untuk diri sendiri?

Dalam gereja ada banyak sekali hamba Tuhan atau pelayan Tuhan yang tanpa disadari sedang berdiri untuk melayani diri sendiri. Dan adakah upah kekal yang akan diterima kelak selain dari pujian manusia yang juga akan mati dengan semua pujiannya? Mulailah selidiki hati kita... Tuhan tidak menginginkan kelebihan dan kehebatan kita, Dia hanya menginginkan hati yang dipersembahkan bersama dengan seluruh hidup kita.

3. KETAATAN.
Ketaatan adalah hal yang harus dimiliki oleh seorang hamba kepada tuannya. Dan jika kita mengatakan kita adalah hamba Tuhan atau pelayan Tuhan berarti kita harus taat kepada tuan kita yaitu ALLAH.

Dalam buku “upah dari penghormatan” yang ditulis oleh JHON BEVERE dikatakan, jika seorang taat kepada ALLAH berarti dia juga harus taat kepada orang-orang utusan ALLAH, yaitu orang-orang yang diberi otoritas untuk menjadi pemimpin dimana saja kita berada termasuk dalam gereja kita. Dan seorang rekan hamba Tuhan mengatakan, “jangan melihat kepada siapa yang memimpinmu tetapi lihatlah kepada siapa yang diberi otoritas” Ini adalah hal menarik yang harus kita renungkan. Karena jika kita melihat kepada siapa yang memimpin kita, maka yang kita lihat adalah, orang ini lebih muda dari saya, orang ini punya masa lalu yang buruk sebelum Tuhan memulihkan hidupnya, orang ini tidak punya pendidikan yang tinggi dibandingkan dengan saya…. Tetapi jika kita melihat kepada siapa yang diberi otoritas untuk memimpin kita, maka kita harus melihat kepada siapa yang memberi otoritas itu, yaitu ALLAH sendiri. Dan taat kepada ALLAH adalah juga taat kepada orang yang diutus ALLAH untuk menjadi pemimpinmu, baik itu di gereja, kelompok doa atau kelompok kecil dalam pelayanan di tempat engkau melayani.

Inilah 3 hal yang harus kita renungkan agar dapat memberikan yang terbaik bagi Tuhan dalam pelayanan kita. Dan janji Tuhan bagi hamba yang melakukan tugasnya dengan baik ada dalam ayat 8 “… Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum…”

Allah tidak pernah mengabaikan kesetiaan orang yang melayani DIA. Segala pekerjaan dan kesetiaan kita ada dalam perhatian Allah (I Korintus 15:58)

Mari melayani dengan hati hamba. Miliki motivasi yang benar dalam melayani Tuhan, dan miliki ketaatan seorang hamba yang baik kepada tuannya. Taat kepada Allah dan kepada pemimpin yang ditunjuk Allah untuk memimpinmu.

Pastikanlah bahwa ketika engkau melakukan tugas pelayananmu, engkau sedang melakukannya bukan untuk memuliakan dirimu tetapi untuk memuliakan ALLAH. (PN)
Read More..

Minggu, 15 April 2012

Ibadah Yang Sejati

Ibadah bukan sebuah rutinitas keagamaan...

Roma 12:1
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itulah ibadahmu yang sejati.

Sejak kecil saya tinggal di sebuah lingkungan dengan masyarakat dari sebuah suku yang sangat rajin menjalani kegiatan ibadah. Dan bukan kebetulan pula tempat tinggal saya sangat dekat dengan sebuah gereja sehingga setiap hari minggu saya selalu menyaksikan banyaknya orang berbondong-bondong datang ke gereja untuk beribadah. Namun pada kesempatan lain saya pun menyaksikan bahwa ternyata orang-orang yang sama masih hidup dalam tradisi sukuisme dengan karakter, kebiasaan dan tutur kata yang sangat bertentangan dengan Firman Tuhan.
Saya kemudian menyadari bahwa ternyata menjalankan kewajiban atau rutinitas sebuah agama sangatlah mudah. Sangatlah mudah untuk bangun setiap hari minggu kemudian bersiap untuk beribadah. Atau mengikuti kegiatan-kegiatan rohani yang menunjukkan kesalehan kita. Dunia mungkin melihat dan memuji kesalehan itu, tetapi bagaimana dengan Allah? Puaskah Allah dengan cara ibadah yang demikian?

Roma 12:1 menjelaskan bahwa ternyata Ibadah bukan sekedar sebuah kegiatan atau rutinitas tetapi Ibadah yang sejati adalah kehidupan yang dipersembahan kepada Tuhan sebagai :

1. PERSEMBAHAN YANG HIDUP. Artinya bukan kekristenan yang suam-suam kuku (sebentar maju, sebentar mundur) atau kekristenan yang cacat (hanya setengah-setengah) juga bukan kekristenan yang mati (tidak mengalami kemajuan dalam iman). Tetapi sebuah kehidupan yang bertumbuh dan berbuah. Penuh semangat di dalam Tuhan, dan terus bergerak maju, menjadi mitra kerja Allah yang pantang mundur untuk menyelamatkan dunia dari kebinasaan.

2. PERSEMBAHAN YANG KUDUS. Artinya tidak menaklukan kehidupan kita pada keinginan daging (pikiran yang masih dipenuhi dengan hal-hal dosa, hati yang masih menyimpan dendam dan kepahitan, mulut yang masih sering mengeluarkan perkataan yang kotor dan sia-sia, dll) itu semua keinginan daging yang minta untuk dilayani, jika kita mengikuti keinginan itu berarti kita belum mempersembahkan hidup kita sebagai persembahan yang kudus kepada Tuhan.

3. PERSEMBAHAN YANG BERKENAN KEPADA ALLAH. Yang berkenan kepada Allah adalah saat kita melakukan apa yang Dia kehendaki, bukan apa yang menjadi kehendak kita. Karena kita sering memberi sesuatu yang baik menurut diri kita sendiri tetapi ternyata bukan itu yang Tuhan mau (contoh : Raja Saul – I Samuel 15:21-22). Untuk mengetahui apa yang berkenan kepada Allah, perbanyak waktu untuk diam dalam hadirat Tuhan. Karena semakin sering kita ‘berduaan’ dengan Tuhan, semakin banyak isi hati-Nya yang akan Dia nyatakan kepada kita.

Ibadah bukan sebuah kewajiban, kebiasaan atau rutinitas. Tetapi kehidupan yang dipersembahkan kepada Tuhan. Kalau kita memberikan harta dan waktu kita untuk Tuhan, pasti masih ada yang bisa kita sisahkan untuk kebutuhan kita dan keluarga. Tetapi ketika kita mempersembahkan kehidupan kita, itu berarti total. Kita tidak bisa lagi menyisahkannya sedikit untuk melakukan keinginan kita. Karena semua sudah dipersembahkan kepada Tuhan. Itulah Ibadah yang sejati. Jbu (PN)
Read More..

Sabtu, 14 April 2012

KEKUATAN DALAM PENANTIAN

(Yesaya 40:29-31)
... tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru ... (ayat 31a)

Ada kekuatan bagi orang yang menantikan Tuhan. Sementara kita menanti, Dia mengalirkan kekuatan-Nya yang menjadikan manusia roh kita kuat.

Mengalami pasang surut dalam kehidupan rohani merupakan hal yang selalu dialami oleh banyak orang. Seseorang bisa saja memiliki semangat yang luar biasa pada hari ini, namun kemudian padam pada keesokan harinya. Bangsa Israel pun mengalami hal yang sama. Hari ini mereka percaya kepada Allah namun esok hari padam. Hari ini mereka bersyukur, esok hari mereka bersungut. Kehidupan yang keras dipadang gurun menjadi tantangan setiap hari terhadap keyakinan mereka kepada Allah.


Seperti halnya bangsa Israel, masalah dan kesulitan hidup dapat mengikis keyakinan kita akan kebesaran Allah. Kecemasan dan kekuatiran dalam pekerjaan, rumah tangga, study bahkan pelayanan dapat menekan kehidupan banyak orang dan melahirkan kekecewaan yang berujung pada keinginan untuk mengakhiri kehidupan. Hal itu terjadi karena kita kehilangan kekuatan pada manusia roh kita.

Seseorang tidak dapat hidup hanya dengan mengandalkan semangat rohani yang pernah didapatkan dahulu ketika menjadi petobat baru. Karena dalam jangka waktu tertentu semangat itu dapat berhenti sementara kehidupan terus berjalan. Cadangan kekuatan rohani kita pun perlu diisi terus setiap hari. Dan Allah mau memberikan kekuatan itu kepada kita (ayat 29). Namun kekuatan itu akan menggantikan segala kelemahan kita pada saat kita sedang menantikan Dia (ayat 31). Kita harus tetap menati-nantikan Tuhan untuk mendapat kekuatan-Nya. Karena sementara kita menanti, kekuatan itu akan terus mengalir menjadi kekuatan yang baru bagi manusia roh kita.

Lalu bagaimanakah hidup yang menantikan Tuhan? Menanti adalah sebuah sikap yang aktif bukan pasif. Lukas 12:35-43 mengajarkan saya tentang beberapa hal mengenai sikap hidup yang menantikan Tuhan.

1. Hendaklah pinggangmu tetap berikat (ayat 35). Adalah sikap yang siap untuk melakukan suatu pekerjaan/melayani. Melayani bukan sekedar mengeluarkan tenaga untuk bekerja, tetapi lebih kepada hati yang rela untuk melakukan sebuah pekerjaan.

2. Pelitamu tetap menyala (ayat 35b). Saya senang dengan lirik lagu yang dinyanyikan oleh Glen Latuihamalo “jadilah terang… jangan ditempat yang terang… jadilah terang, ditempat yang gelap..” Dunia disekeliling kita adalah tempat yang gelap dan disinilah tempat yang tepat bagi kita untuk menjadi terang. Sebuah titik yang putih akan nampak diantara secarik kertas yang hitam. Lakukanlah sedikit kasih diantara seribu kejahatan dalam dunia ini, maka dunia akan melihat perbedaan itu dan mempermuliakan Tuhan (baca Mat 5:14-16).

3. Berjaga-jaga (ayat 37). Seorang tentara yang berada dalam sebuah medan peperangan, pasti tidak akan pernah lengah. Karena sikap itu akan mencelakakan dirinya sendiri. Bukankah hidup kita juga adalah sebuah medan pertempuran? So… berjaga-jagalah dan berdoalah, miliki waktu khusus dengan Tuhan, karena pencobaan memiliki kuasa atas orang yang tidak menjaga kehidupan dalam doa dan persekutuan dengan Tuhan.

4. Memberi makan hamba-hambanya (ayat 42-43). Banyak orang disekeliling kita yang sedang lapar dan haus. Bukan hanya lapar dan haus akan makanan dan minuman, tetapi jiwa mereka dahaga akan sebuah kebenaran. Mereka mencari sebuah kebenaran yang tidak ditemukan diantara kemewahan hidup. Inilah tugas kita untuk memberi makan pada jiwa mereka. Jadikanlah penginjilan sebagai gaya hidup kita untuk dapat membawa orang pada kebenaran yang sesungguhnya.

Inilah 4 sikap yang harus kita miliki – melayani, menjadi saksi, berdoa, dan menginjili – sebagai bukti bahwa kita sedang menantikan Tuhan. Dan janji Tuhan, “orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru, … mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” Jangan berhenti menantikan Tuhan karena sementara kita menanti, kekuatan Allah akan terus mengalir dan menjadikan kita kuat. Haleluya! (PN)
Read More..

Jumat, 13 April 2012

KEGAGALAN


(Lukas 5:1-11)
"... telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau yang menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." (ayat 5)

... rahasia Allah di balik kegagalanku...
Pernahkah anda mengalami kegagalan? Apakah kegagalan itu membuat anda kecewa? Atau kegagalan itu justru membuatmu semakin bergantung kepada Tuhan yang kemudian menjadikanmu seperti anak panah yang terus melejit semakin jauh untuk mencapai sasaran?.
Suatu ketika, Tuhan membawa saya pada sebuah pengalaman hidup yang membuat saya 'berkenalan' dengan apa yang disebut kegagalan. Kegagalan bisa merupakan awal dari keberhasilan yang tertunda, namun kegagalan pun bisa membuat seseorang enggan untuk kembali berkarya. Namun dari pengalaman hidup yang Allah izinkan terjadi dalam kehidupan saya, membuat saya kemudian memandang kegagalan itu sebagai bagian dari proses yang sedang Allah kerjakan untuk menciptakan manusia dengan kepribadian yang kuat di dalam Tuhan. Ya! Kemurnian dari kepribadian manusia, akan nampak setelah mengalami kegagalan.

Para nelayan yang ditemui Yesus di pantai danau Genesaret, adalah sekelompok orang yang saat itu sedang mengalami sebuah kegagalan. Kegagalan, yang tentunya mendatangkan kekecewaan, karena hal itu terjadi bukan karena mereka tidak bekerja; di ayat 5 jelaskan "... telah sepanjang malam kami bekerja keras" Hal itu menunjukkan bahwa mereka sudah berusaha dengan sekuat tenaga. Dan tragisnya lagi, kegagalan yang dialami adalah kegagalan dalam bidang yang menjadi keahlian mereka. Bisakah anda membayangkan seseorang yang begitu profesional dalam sebuah bidang pekerjaan, tiba-tiba menemui kegagalan ketika melakukan hal yang sama yang pernah mendatangkan kesuksesan baginya? Atau bisakah anda membayangkan seorang yang dengan sekuat tenaga bekerja dan berusaha, namun kemudian tidak melihat sedikit pun hasil dari apa yang diusahakan? Jika demikian, pantaskah jika orang kristen kecewa kepada Tuhan?

Banyak orang tidak lagi mau menjadi setia kepada Allah ketika mengalami kegagalan dalam hidupnya. Bahkan banyak kali kegagalan dijadikan alasan untuk tidak mau lagi berdoa, tidak mau lagi ke gereja, bahkan tidak sedikit yang akhirnya meninggalkan Allah karena kekecewaan akibat kegagalan dalam kehidupan. Hal ini dialami pula oleh Simon dan rekan-rekannya. Kegagalan dan keletihan karena bekerja keras sepanjang malam, sudah cukup untuk dijadikan alasan bagi sebuah kekecewaan. Sampai Yesus datang dan menyuruh mereka untuk kembali melakukan hal yang sama, yang sudah mereka lakukan 'sepanjang malam'. Ya! Yesus menyuruh mereka melakukannya sekali lagi! Mengapa demikian? Sederhana saja. Karena Yesus ingin mengajar mereka untuk tidak mudah menyerah pada kegagalan. Karena Dia justru akan memakai kegagalan itu untuk memperbaharui kehidupan mereka.

Ada 2 hal yang bisa kita pelajari lewat kegagalan. Pertama, adalah “Melibatkan Allah dalam kehidupan kita.” Keterlibatan Allah dalam kehidupan kita adalah hal yang sangat penting. Dan ketaatan pada perintah-Nyalah yang akan menjadi kunci dari keberhasilan (ayat 4-5) . Keinginan untuk mencapai kesuksesan cenderung membuat manusia terlalu sibuk dengan segala macam cara sehingga mengabaikan keterlibatan Allah. Kegagalan dizinkan terjadi untuk membuat kita sadar bahwa kekuatan dan kehebatan kita memiliki batas sedangkan kuasa Allah sempurna dan tidak terbatas.

Hal yang kedua, adalah prioritas dalam kehidupan orang percaya. Keberhasilan adalah hal yang menjadi harapan semua orang. Namun sisi buruk dari semua keberhasilan adalah ketika seseorang menjadi lupa diri dan mulai terikat dengan keberhasilan. Simon Petrus dan rekan-rekannya berhasil menangkap sejumlah besar ikan (ayat 6-7). Tetapi kemudian mereka memilih untuk mengikut Tuhan didalam keberhasilan mereka. Ayat 11… mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. Ya! mereka meninggalkan sejumlah besar ikan. Bukankah tadinya mereka telah bekerja keras sepanjang malam untuk mendapatkan ikan-ikan itu? Apa yang membuat mereka kemudian lebih tertarik mengikut Yesus dari pada ikan-ikan tersebut? Inilah prioritas dalam kehidupan orang percaya. Kegagalan bisa menjadi alat yang berkuasa di tangan Allah untuk membuat kita tahu menempatkan Allah sebagai yang utama dalam kehidupan kita.
Saudara, jangan kecewa dan berhenti untuk berkarya ketika kegagalan datang. Ayo bangkit! Dan tetaplah percaya kepada Tuhan. Mulailah untuk bertindak sesuai perintah Allah. Akuilah, bahwa terkadang keprofesionalisme dan kekuatan kita tak dapat sepenuhnya diandalkan. Allah memakai kegagalan bukan untuk menghancurkan kita, tetapi lewat kegagalan Dia menciptakan pribadi-pribadi yang kokoh dan siap dipakai untuk melakukan pekerjaan Allah yang dahsyat!
Jangan terlalu cepat membasuh jalamu. Sejumlah besar ikan masih banyak tersedia. Bertolaklah kembali dan tebarkan jalamu. Taatlah pada perintah Allah dan jadikan Dia yang utama dalam kehidupanmu. Maka keberhasilan akan membuat jalamu mulai koyak sehingga engkau akan takjub pada perbuatan Allah dan terus memuji Dia dalam hidupmu(ayat 6-9). Dan percayalah bahwa kehidupanmu akan menjadikan engkau saksi yang hidup bagi dunia, sehingga mereka pun akan percaya kepada Yesus (ayat 10). (PN)
Read More..