span.fullpost {display:none;}

Rabu, 28 Maret 2012

Mengenal Musuh Kita

Setan pun merayakan Valentine Days!!!
(Matius 4:1-11, Lukas 4:13) Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-ngaum dan mencari orang yang dapat ditelannya ( 1 Petrus 5:8)
Tanggal 14 Pebruari yang dikenal sebagai valentine days, ternyata adalah ‘HARI PENGINJILAN ’ satanisme terbesar…

Modernisasi yang tengah melanda dan terjadi dalam dunia saat ini, merupakan hal yang sangat dinikmati oleh manusia. Sehingga apa yang dahulu merupakan kesulitan; mulai dari masalah makanan, kecantikan, hiburan, sampai masalah komunikasi, kini telah siap dengan cara-cara yang instant dan menggiurkan untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan manusia.

Tidak ketinggalan ‘si jahat’ pun ikut dalam sistem tersebut. Sadar atau tidak iblis pun tengah menampilkan dirinya dengan penampilan yang nampak ‘modern’ bahkan kelihatannya pun dapat ‘menjadi jawaban’ atas masalah kita. Tempatnya bukan lagi di kuburan atau ditempat-tempat gelap dengan wajah yang memiliki gigi taring yang mengerikan. Seorang mantan aliran ‘gereja setan’ mengatakan bahwa tanggal 14 Pebruari yang dikenal sebagai valentine days adalah ‘hari penginjilan’ satanisme terbesar karena pada hari itu mereka akan tersebar di mall-mall dengan tujuan menjaring anak-anak muda untuk menjadi pengikut mereka. Dan cara mereka dimulai dengan berkenalan dan mengajak anak-anak muda makan di restaurant yang mahal2. Hati-hati!!! Setan pun merayakan valentine days.

Iblis juga dapat memakai media-media bacaan atau televisi dengan menampilkan cerita tentang seorang anak yang bersahabat dengan tuyul yang baik hati atau seorang anak yang memiliki benda-benda ajaib yang dapat menjadi sumber pertolongannya. Sepintas bagi kita itu hanya sebuah cerita, tetapi kandungan dari cerita tersebut dapat menciptakan satu pola pikir bagi anak-anak bahwa setan memiliki sisi kehidupan yang baik dan dapat menjadi sahabat manusia. Bahkan banyak juga tayangan yang membuat orang dewasa pun dapat terkecoh dengan ramalan – ramalan nasib, jodoh dan keuntungan, dan juga cerita tentang orang-orang hebat yang memiliki ilmu putih untuk memberantas kejahatan. Sehingga timbullah pengertian bahwa ‘ilmu putih’ adalah baik dan benar. Wouw!!!

Yohanes 10:10 jelas mengatakan bahwa pencuri datang untuk mencuri, membunuh dan membinasakan. Jadi bagaimana pun penampilan ‘si jahat’ tujuannya adalah satu, yaitu membinasakan orang-orang percaya.

Ada 3 hal yang perlu kita waspadai untuk membungkam tipu muslihat si jahat.

1. MASALAH HIDUP Matius 4:2 … akhirnya laparlah Yesus. Iblis sangat lihai untuk memakai kelemahan kita. Dia akan menawarkan apa yang dia tahu menjadi kebutuhan kita saat itu. Terkadang kebutuhan makan, pakaian, kesehatan, jodoh dll menjadi masalah yang serius bagi orang percaya. Kehidupan yang menekan terkadang menimbulkan keraguan akan pemeliharaan Allah. Dan iblis mulai mengambil alih masalah ini. Orang-orang dekat yang ada disekeliling kita pun dapat dipakainya sebagai media untuk mempromosikan jalan keluar ala iblis. http://www.blogger.com/img/blank.gif

Saudara, jangan mudah menyerah oleh karena masalah dalam hidupmu belum terselesaikan. Jangan mengikuti nasihat ‘si jahat’ tetapi pandanglah terus kepada janji-janji Allah. ( Matius 6:25-34, I Petrus 5:7 )

2. FIRMAN TUHAN Matius 4:6 … sebab ada tertulis…. Iblis bisa memakai firman Tuhan untuk mengaburkan pandangan orang percaya. Fenomena-fenomena tentang kesembuhan dan penampakan pribadi Yesus yang banyak terjadi di beberapa daerah di Indonesia saat-saat ini, membuat banyak orang percaya berbondong-bondong datang ke tempat-tempat tersebut dengan tujuan ‘mencari Yesus’ Benarkah Yesus ada disana?
http://www.blogger.com/img/blank.gif
Saudara, ujilah segala sesuatu, agar hidupmu tidak gampang dikendalikan oleh si jahat. Karena segala tipu muslihat iblis memiliki tujuan untuk menyesatkan orang percaya. (I Tes 5:21), (Matius 24:4-5)

3. IDENTITAS SEBAGAI ORANG PERCAYA.
Perhatikan perkataan iblis, setiap kali hendak mencobai Yesus, selalu dimulai dengan perkataan “Jika Engkau Anak Allah”. Hal yang sama yang akan dia pakai untuk menjatuhkan orang percaya. Yaitu mencoba membuat kita ragu bahwa kita adalah anak-anak Allah. Ketika manusia mulai ragu dengan identitasnya dihadapan Allah maka itu adalah kesempatan iblis dia untuk melancarkan serangan berikutnya, yaitu mengikuti perintahnya. Jangan pernah ragu bahwa kita adalah anak-anak yang sudah ditebus oleh darah Yesus yang berkuasa. Dan seluruh kehidupan kita ada dalam tangan Tuhan. Tiga cara yang berbeda yang iblis gunakan untuk menjatuhkan Yesus. Saya menyebutnya dengan ‘anak panah beracun’. Hal ini menunjukkan bahwa iblis pun kreatif. Dia memakai segala cara dan tidak akan berhenti. Dia akan terus mencari cara untuk bisa menjatuhkan orang percaya (Lukas 4:13). Dalam setiap keadaan dia akan mencari cela untuk menggugurkan keyakinan kita kepada Allah.
Saudara, waspadalah! Iblis memiliki banyak ‘anak panah beracun’ untuk menebus medan pertahanan kita.. Dia tidak pernah diam sebelum mencapai tujuannya. (I Petrus 5:8) Hanya orang-orang yang tekun dalam doa, hidup dalam penyembahan kepada Allah setiap hari, taat pada perkataan firman Allah dan selalu memandang pada salib, akan keluar sebagai pemenang! ( I Tes 5:6-8,16-22). (PN)
Read More..

Perkara Kecil Menyatakan Kuasa Besar

Jangan mengabaikan hal-hal kecil yang Tuhan berikan kepadamu dan jangan menolak perkara kecil yang Tuhan mau engkau kerjakan. Karena semua itu adalah awal dari perkara besar yang akan Tuhan nyatakan dalam hidupmu.

Yang paling sering diabaikan dan tidak mendapat perhatian dalam kehidupan kita adalah sesuatu yang kita anggap “kecil dan tidak berarti” Namun demikian, Allah kita adalah Allah yang besar yang dapat menyatakan kuasa-Nya melalui hal-hal yang kecil.


I. YANG KECIL YANG MENJADI BERKAT (Matius 14:13-21) Yesus memakai lima roti dan dua ikan untuk memberi makan lima ribu orang. Ketika Yesus menyuruh para murid memberi orang banyak itu makan, mereka berkata “Yang ada pada kami di sini HANYA lima roti dan dua ikan” Tetapi apa kata Yesus? “BAWALAH KEMARI KEPADAKU”. Terkadang kita pun demikian, merasa sangat kecil dan tidak memiliki apa-apa untuk dapat memberkati dunia ini padahal dunia saat ini sangat membutuhkan kita. Yesus berkata "apa yang ada pada kamu, bawalah kemari kepada-Ku" Jangan takut jika engkau hanya memiliki “lima roti dan dua ikan” (sangat terbatas dalam segala hal) Yang perlu kita lakukan adalah menyerahkannya kepada Tuhan, dan ditangan-Nyalah semua akan diubahkan dan dilipatgandakan untuk menjadi berkat bagi dunia ini.

II. YANG KECIL YANG MENDATANGKAN BERKAT (I Raja-raja 17:7-16) Janda di Sarfat kemudian melihat dan menikmati berkat Tuhan dalam hidupnya. Tetapi semua dimulai dari ketaatannya kepada perkataan Elia “… buatlah TERLEBIH DAHULU bagiku sepotong roti bundar KECIL dan BAWALAH KEPADAKU,…”. Mendahulukan Tuhan lewat hal-hal yang kecil akan melatih kita untuk lebih setia melalukan hal besar. Bagaimana dengan pelayanan yang selama ini Tuhan percayakan kepada saudara? Kesetiaan pada hal-hal yang kecil dalam pekerjaan Tuhan, akan menyentuh hati Allah untuk memberkati saudara. Allah tidak meminta yang besar, Dia akan mulai dari ketaatan kita pada hal-hal yang kecil. Perkara yang besar tidak akan dipercayakan kepada kita, sampai Dia melihat bahwa kita telah setia pada hal-hal yang kecil. Mari belajar untuk mendahulukan Tuhan sekalipun itu hanya lewat “sepotong roti bundar yang kecil” . Dan kita akan melihat betapa Allah memperhitungkan “yang kecil” yang kita kerjakan “terlebih dahulu” bagi Dia.


III. YANG KECIL YANG MENYATAKAN KUASA ALLAH (I Samuel 17:40-58) Daud mengalahkan Goliat hanya dengan “sebuah batu kecil” Mengapa bisa terjadi? Karena Daud mengenal betul siapa Allah yang dia percaya. Daud berkata “… tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam…” Dan akhirnya ALLAH YANG BESAR memakai “BATU KECIL + DAUD KECIL” untuk mengalahkan musuh!.
Musuh sebesar apa yang sedang saudara hadapi saat ini. Bukankah yang kecil bagi dunia ini akan dipakai oleh Tuhan untuk mengalahkan yang hebat? Jangan mengatakan engkau kecil dan menjadi takut dengan pergumulan besar, karena bersama dengan engkau yang kecil ada ALLAH YANG BESAR! (PN)

Read More..

Selasa, 27 Maret 2012

PRIORITAS dalam kehidupan orang percaya


Matius 9:35-38 Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. (ayat 36)

Melihat musibah yang terjadi hari-hari ini, entahkah itu karena kejadian alam ataupun karena keteledoran manusia, seharusnya membuat kita tersadar bahwa kehidupan manusia itu benar-benar adalah sebuah misteri yang tidak dapat ditebak kapan waktunya. Bencana-bencana yang terjadi telah membawa serta banyak orang… entahkah tua, muda, orang dewasa atau anak-anak. Yang pasti musibah itu merupakan bencana yang merenggut banyak jiwa. Dan yang menjadi pertanyaan penting adalah apakah mereka yang tiba-tiba “pergi” telah membawa nama Yesus, sehingga mereka diselamatkan? Ataukah mereka “pergi” tanpa pernah mendengar tentang Yesus.

Dalam Matius 9:36, Yesus mengatakan mereka seperti domba yang tidak bergembala… domba yang tidak tahu dimana harus mendapatkan air yang tenang dan padang dengan rumput yang hijau. Ya, mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui jalan kebenaran dan hidup. Dan selanjutnya Yesus mengatakan mereka adalah “tuaian yang banyak… yang sudah siap untuk dituai, tetapi pekerjanya sedikit, sehingga tuaian itu akhirnya membusuk alias binasa tanpa pernah mendengar tentang Yesus.
Sadar atau tidak kita sedang berada dalam dunia pertarungan dengan iblis untuk merebut jiwa-jiwa terse but. Ketika kita mengabaikan tugas kita untuk memenangkan mereka, maka iblislah yang akan mencari dan menemukan mereka. Bukankah dunia pun sedang gencar-gencarnya memberikan tawaran bagi orang-orang yang hidup dalam kekecewaan, putus asa dan depresi? Sehingga banyak orang menganggap bahwa tanpa Yesus pun mereka bisa tertawa dan dapat memiliki kehidupan yang aman-aman saja. Namun sebagai orang-orang percaya yang telah mengetahui bawah dibawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehnya manusia dapat diselamatkan selain nama Yesus (Kisah 4:12), seharusnya memiliki beban dan belas kasihan seperti Yesus (Mat 9:36) agar dengan beban dan belas kasihan inilah orang percaya mulai bergerak untuk memberitakan nama Yesus sehingga banyak jiwa dapat diselamatkan. Karena jika apa yang menjadi bagian kita tidak kita kerjakan, maka iblis akan menggunakan peluang. Iblis tidak mau tahu seberapa aktifnya kita melayani, seberapa lamanya kita beribadah dan seberapa hebohnya kita melompat dalam setiap KKR. Iblis pun tidak mau peduli seberapa banyak gereja – gereja besar yang ada dalam sebuah kota. Selama kita tidak memberitakan injil, maka selama itu pula dia bebas untuk memperlebar kerajaannya di dunia.

Sebuah keluarga tidak dapat diselamatkan hanya karena seorang istri atau suami yang selalu berada di luar rumah dalam kesibukan kegiatan pelayanan. Dan juga lingkungan bahkan kota dimana kita berada pun tidak dapat diselamatkan hanya karena di kota tersebut terdapat banyak gereja – gereja besar yang hanya sibuk memikirkan program gerejanya, tetapi tidak pernah memberitakan injil.
Iblis hanya menjadi gemetar ketika nama Yesus diberitakan lewat pekabaran injil. Ketika orang-orang percaya mulai menggunakan kuasa nama Yesus dalam pemberitaan injil, maka saat itulah kerajaan iblis akan diporakporadakan. Dan iblis tahu akan kelemahannya, sehingga dia pun mulai melemparkan senjata rahasianya untuk membuat orang-orang Kristen tidak memberitakan injil yaitu dengan “MENGABURKAN PRIORITAS ORANG PERCAYA”. Karena hanya dengan membuat orang percaya tidak menyadari bahwa dunia membutuhkan Yesus akan membuat penginjilan tidak menjadi prioritas bagi orang percaya.
Kita harus menyadari bahwa iblis sedang bekerja membuat pandangan serta pengertian kita dikaburkankan dengan membuat orang-orang Kristen sibuk dengan berbagai hal dan melupakan apa yang menjadi prioritas sebagai orang percaya.Bahkan pelayanan pun dapat menjadi senjata iblis untuk membuat prioritas itu terabaikan. Orang Kristen merasa puas ketika merasa dirinya adalah fulltimer, aktivis, yang setiap hari ada dalam tembok gereja tanpa menyadari bahwa diluar tembok ada banyak jiwa yang belum diselamatkan.
Kalau setiap gereja Tuhan menyadari apa sesungguhnya yang menjadi kebutuhan utama dunia ini, maka seharusnya amanat agung Yesus sebelum naik ke surga (Matius 28:19) seharusnya menjadi prioritas bukannya segala program dan kegiatan yang tujuanya hanya untuk melayani diri sendiri. Dalam keluarga – keluarga Kristen, suami / Istri merasa puas ketika dia selesai dengan kesibukan dan tanggungjawabnya untuk menafkahi keluarga, tanpa menyadari bahwa Allah pun menciptakan mereka untuk karya penyelamatan dunia.

Ketika melihat orang banyak yang terlantar seperti domba yang tidak memiliki gembala, tergeraklah hati Yesus dengan belas kasihan karena Yesus tahu apa yang menjadi kebutuhan mereka. Maka Yesus mengatakan “tuaian banyak” tetapi “pekerja sedikit”. Kenapa pekerjanya bisa sedikit? Pertanyaan yang sama dapat ditujukan untuk kita saat ini. Apakah jumlah orang Kristen dalam dunia ini begitu sedikit sehingga tidak dapat menuai, sementara ada begitu banyak tuaian? Kurang banyakkah gereja-gereja Tuhan pada zaman ini? Apakah terlalu sedikit jumah 4 orang dalam sebuah keluarga untuk menuai 1orang PRT??. Yang terjadi sebenarnya adalah bukan jumlah orang Kristen yang sedikit tetapi orang Kristen sedang lupa pada prioritasnya sebagai orang percaya. Kalau masih banyak PRT yang belum mendengar tentang Yesus, itu karena “penuai” dalam rumah itu tidak ada… lagi sibuk semua!!!

Yesus kemudian mengatakan “mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu”
Bagi seorang tuan yang sedang mencari pekerja untuk bekerja kepadanya, baik dalam sebuah perusahaan besar, toko atau bahkan diperkebunan dan sawah sekali pun, tentu akan mencari pekerja-pekerja yang berkualitas dan dapat dipercaya untuk menyelesaikan tugasnya.
Dunia yang penuh dengan tuaian membutuhkan orang-orang Kristen yang siap untuk menuai.

Pertama, Memiliki integritas yang tinggi. Yang tau apa yang menjadi prioritas, rajin dan memiliki komitmen dan semangat untuk melakukan tugasnya sekalipun didalamnya ada banyak tantangan yang akan dihadapi. Yang setia, dan tidak suka mengeluh, siap memberi lebih banyak, dari pada menerima.

Kedua, Memiliki kasih dan beban terhadap jiwa-jiwa. Karena tanpa kasih segala pelayanan akan menjadi sebuah keharusan yang pada akhirnya menjemukan.

Ketiga, Memiliki kerendahan hati. Dan siap untuk dibentuk.

Mau atau tidak mau seharusnya semua gereja Tuhan harus siap untuk melakukan tugas ini. Memastikan diri sebagai pekerja yang akan dipilih dan dipakai Tuhan untuk menuai. Program dan kesibukan dalam pelayanan itu baik, tetapi terkadang kesibukan membuat kita kehilangan beban terhadap jiwa-jiwa. Dan hal inilah sebenarnya yang membuat Yesus berkata “pekerja sedikit”. Bukan berbicara tentang jumlah, tetapi tentang prioritas yang kabur dalam gereja Tuhan. Mari kita menyadari hal ini dan mulai menjadikan penginjilan sebagai prioritas agar kebutuhan dunia dapat terjawab. (PN)

Read More..

Senin, 26 Maret 2012

TEMPAT YANG TEPAT


Setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya supaya ia lebih banyak berbuah (Yohanes 15:1-2)

Setiap orang tentu tidak ingin bertemu dengan masalah. Semua menginginkan kehidupan yang aman-aman saja tanpa kesulitan.

Ada orang yang cukup bijak yang selalu berusaha untuk menjalani hidup dengan baik, menempuh jalan yang aman, agar terhindar dari masalah.

Atau mungkin selama ini kita merasa telah melayani Dia dengan sangat baik, hidup dijalan yang benar sesuai dengan Firman Tuhan, jadi pantaslah jika tidak memiliki masalah dalam kehidupan.

Tetapi jika suatu saat ketika Allah mengizinkan masalah itu datang, apa tindakan kita? Bagi saya saat ini, MASALAH ADALAH TEMPAT YANG TEPAT UNTUK MELIHAT ALLAH DENGAN LEBIH JELAS. Oleh sebab itu jangan meremehkan masalah yang ada. Jika Allah mengizinkan masalah itu ada, itu karena ada sesuatu yang sedang Ia persiapkan dalam kehidupan kita.

Mungkin kita akan bertanya, mengapa harus lewat masalah? Karena jika kehidupan berjalan dengan tenang, aman dan penuh dengan berkat, maka hidup kita hanya terfokus pada berkat-berkat Allah dan tidak kepada sumber berkat itu. Bahkan ada kalanya tanpa kita sadari, justru berkat-berkat itu telah menjadi ‘berhala’ yang telah menyita waktu, pikiran, tenaga bahkan seluruh hidup kita.

Untuk itulah Allah kemudian memisahkan kita dan membawa kita ke sebuah tempat yang bernama “Masalah”. Dan disanalah proses pembersihan itu Dia kerjakan. Kadang terlalu sulit untuk mengerti cara Allah mencintai kita. Seakan masalah hidup akan membawa kita pada kehancuran padahal sesungguhnya itu adalah saat dimana Allah dengan kasih dan setia-Nya sedang membersihkan hidup kita dari hal-hal yang tidak berkenan kepada Dia.

Firman Tuhan mengatakan, ranting yang sudah berbuah tetap akan dibersihkan supaya ia dapat menghasilkan buah yang lebih banyak lagi. Dan selama ranting itu masih melekat pada pokok anggur yang memberinya kehidupan, maka proses pembersihan itu tidak akan membuatnya menjadi kering apalagi mati.

Tidak penting besar atau kecilnya masalah yang sedang kita hadapi saat ini. Yang terpenting adalah kepada siapa kita melekat. Selama kehidupan kita melekat menjadi satu dengan Allah sumber kehidupan itu maka jangan kuatir menghadapi proses pembersihan yang sedang Dia kerjakan.

Mungkin “tempat” dimana engkau berada saat ini sangat tidak nyaman, karena disana engkau merasa sendiri, merasa tertolak, harus menangis, bahkan mungkin menjerit “dimanakah Tuhan?”

Percayalah bahwa “tempat” yang tidak nyaman bagimu saat ini adalah tempat yang sangat tepat untuk engkau dapat melihat Allah dengan lebih jelas lagi.Mulailah tenang dan biarkan Dia menyelesaikan rencana-Nya dalam hidupmu.(PN)

Read More..

Minggu, 25 Maret 2012

Yang Terbaik Hanya Bagi Dia


Lukas 7:44 ... "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberi Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya.


Melakukan yang terbaik bagi Tuhan membutuhkan sebuah komitmen, karena didalamnya pasti ada pengorbanan dan disaat kita mulai melakukannya kita akan diperhadapkan dengan berbagai tantangan. Dan saat itulah kesetiaan kita kepada Tuhan akan teruji.


Ketika Yesus berada dalam sebuah undangan makan, Ia dikelilingi oleh banyak orang. Ada orang-orang Farisi, golongan yang sangat berpengaruh dan berpegang teguh pada hukum taurat. Ada juga para murid Yesus, kelompok yang sangat dekat dengan Yesus, yang setiap hari melayani bersama Yesus, dan setiap saat menyaksikan banyak mujizat yang Yesus lakukan. Lalu masuk pula seorang wanita yang dikenal sebagai wanita yang berdosa, yang terhina dan sangat dikucilkan oleh masyarakat pada jaman itu. Namun berbeda dengan semua orang yang ada di tempat itu, karena wanita ini datang bukan untuk memenuhi undangan makan dan bergabung dengan ‘orang-orang terpelajar’ di tempat itu. Tetapi dia datang khusus untuk mencari Yesus. Mengingat bahwa wanita ini “terkenal sebagai orang berdosa” (ayat 37) sudah tentu setiap orang yang melihat kehadirannya akan bertanya-tanya, apa tujuan dia datang ke tempat itu. Bukankah yang berada saat itu adalah orang-orang farisi dan para murid Yesus yang pasti bagi sebagian orang mereka adalah orang-orang yang saleh dan terpelajar. Dan apakah wanita ini tidak malu berada diantara mereka? Namun itulah yang terjadi “ketika dia mendengar Yesus ada ditempat itu, dia datang untuk mencari Yesus. Dan ia tidak datang dengan tangan kosong tetapi membawa buli-buli berisi minyak wangi yang telah dipersiapkan dari rumahnya. Bisa dibayangkan bagaimana ramainya keadaan jamuan makan saat itu. Semua orang pasti asyik menikmati suasana. Namun hal itu tidak membuat wanita ini kehilangan focus pada tujuannya. Ditengah-tengah segala keramaian yang ada, wanita ini tetap pada tujuan kedatangannya, yaitu YESUS. Dia masuk dan mengambil tempat yang paling dekat dengan Yesus yaitu di kaki-Nya. Sebuah tempat yang sama sekali tidak menjadi pilihan dari orang-orang yang lebih dahulu ada di sana. Semua orang memilih untuk duduk “sejajar” dengan Yesus, tetapi wanita ini memilih untuk duduk di “dekat kaki Yesus”. Dan sementara semua orang sedang menikmati makan dan minum, wanita ini mulai membasahi kaki Yesus dengan air matanya bahkan menyekanya dengan rambutnya. Dan sementara orang-orang menantikan kalau saja Yesus akan melakukan mujizat, wanita ini mulai memecahkan buli- buli dan menuangkan minyak wangi di kaki Yesus. Ya.. disaat semua orang menunggu untuk memperoleh “sesuatu” dari Yesus, wanita ini malah “berkorban” bagi Yesus. Bahkan wanita ini memberikan yang terbaik dari apa yang dia miliki, yaitu minyak wangi yang mahal harganya. Renungkan bagian ini… dan pastikanlah di posisi mana kita berada saat ini. Apakah kita sedang asyik menikmati “jamuan makan dan minum” dari berkat-berkat yang Tuhan berikan bagi kita? Atau kita sedang menjadi “penonton” melihat mujizat Allah – tanpa pernah mengalaminya. Belajar pada wanita ini, dia datang dengan kerinduan hatinya, dia mengambil tempat duduk dari kerendahan hatinya, dan dia berkorban dengan ketulusan hatinya. Banyak orang bisa memberi dan melakukan apa saja untuk Tuhan. Tetapi berani berkorban bagi Tuhan hanya dapat dilakukan oleh orang yang hatinya benar-benar melekat kepada Dia. Hal yang sederhana saja, beranikah kita mengambil waktu ‘berharga’ yang biasa kita habiskan untuk diri kita sendiri atau untuk bersenang-senang, dan memakainya untuk Tuhan? Melakukan yang terbaik bagi Tuhan membutuhkan sebuah komitmen. Karena di dalamnya pasti ada pengorbanan dan disaat kita mulai melakukannya kita akan diperhadapkan dengan berbagai tantangan. Baik tantangan dari orang-orang disekitar kita maupun dari diri kita sendiri. Wanita ini memiliki komitmen yang teguh, sehingga ketika semua orang menunjukkan sikap yang tidak senang terhadap apa yang dia lakukan, wanita ini memilih untuk tetap diam dan terus melayani Yesus. Simon, si Farisi tidak mendapat pujian dari Yesus, padahal dia yang mengundang Yesus makan dirumahnya. Hati Yesus lebih tersentuh dengan pelayanan seorang wanita yang dianggap berdosa oleh orang-orang di tempat itu. Mungkin saat ini, kita sedang melakukan banyak hal dalam pelayanan, dan dengan berbangga hati kita menganggap telah berhasil mengambil hati Tuhan. Ingat, wanita ini mendapat perhatian dari Yesus bukan karena ‘minyak wanginya’ tetapi karena hatinya yang mengasihi dan mau berkorban untuk memberi yang terbaik yang dimilikinya bagi Tuhan. Memberi yang terbaik bagi Tuhan adalah sebuah pilihan. Mulailah melakukannya hari ini, atau engkau tidak akan pernah melakukannya…. (PN)
Read More..

Jumat, 23 Maret 2012

TERUSLAH BERSERU sampai Dia menjawab doa-Mu...


Matius 15:21-28
Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya?”
(Lukas 18:7a)


Berdoalah sampai sesuatu terjadi…

Banyak orang datang kepada Yesus untuk menyampaikan apa yang menjadi kebutuhan mereka tetapi tidak semua orang dapat bertahan dalam menanti jawaban Tuhan. Apalagi jika harus melewati tantangan... tantangan waktu, harga diri, atau pun orang-orang dekat yang nampak sama sekali tidak mendukung. Hal-hal ini dapat membuat kita patah semangat, memilih untuk mundur bahkan mungkin mulai berpikir untuk mencari jalan keluar… selain Yesus.

Wanita Kanaan dalam Matius 15:21-28 memiliki pergumulan berat. Dia adalah seorang wanita yang berasal dari bangsa yang tidak percaya kepada Yesus. Tetapi waktu dia mengetahui Yesus ada didaerahnya, wanita ini datang dan mulai berseru kepada Yesus. Hanya satu yang dia inginkan, yaitu anaknya sembuh. Tetapi tidak semudah yang mungkin dia bayangkan… karna ternyata, Yesus sama sekali tidak menjawab seruannya… bahkan mungkin saja saat itu Yesus tidak menengok sedikit pun pada wanita ini. Ditambah lagi dengan sikap murid-murid yang malah meminta Yesus agar menyuruh wanita ini pergi, karena merasa terganggu dengan teriakannya.

Hari-hari ini, disaat kita mengalami pergumulan berat, terkadang justru hadir orang-orang yang sepertinya bisa memberi jalan keluar, tetapi sesungguhnya mereka sementara membuat kita menjadi lemah dalam pengharapan kepada Tuhan. Tanpa disadari sikap dan keinginan mereka sebenarnya bertujuan untuk meminta kita berhenti saja berharap dan lebih baik mencari jalan keluar yang lain yang lebih aman tanpa harus capek berseru-seru kepada Tuhan, karena masalah yang kita hadapi sangat besar dan seakan mustahil untuk terus berharap kepada Tuhan dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menanti. Ya! Orang-orang tersebut seperti murid-murid Yesus yang sebenar merasa terganggu “kenyamannya” karena melihat keteguhan wanita ini dalam menanti pertolongan Tuhan.

Namun diperlakukan demikian tidak membuat wanita ini berhenti, bahkan disaat Yesus sendiri menyatakan bahwa Dia datang hanya untuk umat Israel pun, tetap membuat wanita ini pantang mundur (ayat 24). Dia malah semakin mendekati dan menyembah Yesus sambil berkata “Tuhan, tolonglah aku”. Tetapi Yesus malah menjawab “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Seakan Yesus mau mengatakan, “kuasa yang ada pada-KU ini hanya untuk "anak-anak" yaitu mereka yang pantas menerimanya, sedangkan kamu itu hanyalah seekor anjing. Pantaskah Aku memberikannya kepadamu?”

Sebenarnya inilah titik dimana wanita ini harus mundur dan berhenti berharap. Karena Yesus sendiri sudah mengatakan bahwa “tidak patut” engkau mendapat pertolongan itu, karena yang ada pada-Ku milik “anak-anak” dan bukan “anjing”.

Namun perkataan yang sangat “menghinakan” itu diterima olehnya bahkan dengan merendahkan dirinya ia berkata “ benar Tuhan, namun ANJING ITU makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya”(ayat 27).

Perhatikan, perkataan wanita ini “ANJING ITU!”. Seakan dialah anjing itu yang bersedia memakan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya, dan percaya bahwa walaupun hanya remah-remah… tetapi kalau itu berasal dari Yesus maka itu pun akan sanggup untuk menjawab apa yang menjadi kebutuhannya.
Wanita ini bersedia merendahkan dirinya karena dia memiliki iman yang sungguh bahwa Yesus sanggup untuk menjawab pergumulannya. Dia tidak mudah menyerah, dia tidak mundur, dan tidak pergi sebelum pergumulannya terjawab.

Dan akhirnya Yesus mengakui keteguhan wanita ini, kemudian berkata “ Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki.”

Saudara, sampai sejauh mana engkau berseru kepada Tuhan untuk pergumulan yang sedang engkau hadapi? Dan ketika engkau merasa banyak orang tidak mendukungmu untuk terus berharap, bahkan mungkin Yesus pun seakan “tetap diam.” Apa yang engkau lakukan? Mundur… kecewa… dan tidak mau lagi berharap???

Kalau wanita Kanaan yang berasal dari bangsa yang tidak percaya saja bisa menyentuh hati Yesus karena keyakinan dan keteguhannya, apalagi kita yang adalah anak-anak-Nya yang telah ditebus dengan darah-Nya yang kudus. Tidakkah ia akan menjawab seruan doa kita.?
Jangan pernah berhenti berseru… sampai Dia memberikan belas kasihan-Nya dan menjawab doamu.(PN)

Read More..