Refleksi Materi Kuliah Rumah Tangga Kristen tentang Ancaman Terhadap Kesatuan Dalam Pernikahan.
Kesatuan adalah unsur yang penting untuk memenuhi maksud Allah dalam sebuah pernikahan. Oleh sebab itu, suami dan istri harus memiliki komitmen untuk mempertahankannya karena ada banyak hal yang dapat menjadi ancaman terhadap kesatuan tersebut.
Materi kuliah kali ini memaparkan tentang 5 ancaman kesatuan dalam pernikahan. Dan menurut saya ancaman yang banyak terjadi adalah ancaman karena adanya perbedaan latar belakang secara budaya dan sosial. Menurut saya setiap pasangan yang akan menikah seharusnya membicarakannya dan saling mengenal perbedaan tersebut sejak awal. Karena bisa jadi, karena masing-masing telah dibesarkan dalam sebuah kebudayaan, maka hal itu akan terus terbawa sampai dewasa bahkan sampai pada sebuah pernikahan. Jika masing-masing tidak dapat menerima budaya pasangannya, maka hal ini pastinya akan menimbulkan perselisihan dalam pernikahan. Seperti yang dialami oleh teman saya yang menikah dengan pria keturunan Tionghoa. Perbedaan budaya diantara mereka sering menimbulkan pertengkaran sampai melibatkan orang tua dan keluarga besar. Hal tersebut sangat disayangkan karena walaupun mereka telah percaya kepada Yesus tetapi budaya yang membesarkan mereka juga ikut menjadi dasar dalam menjalani pernikahan.
Ancaman yang lain juga dapat terjadi karena perbedaan prinsip, tidak adanya kesediaan untuk saling menerima kelemahan pasangan, perselingkuhan, dan juga pernikahan yang dilakukan tanpa persiapan yang matang. Semua ini adalah ancaman yang serius yang akan menggagalkan maksud dan tujuan Allah dalam pernikahan.
Tetapi menurut saya, yang menjadi akar dari semua ancaman tersebut adalah karena masing-masing tidak memiliki konsep yang benar tentang Allah. Karena suami dan istri yang memiliki konsep yang benar tentang Allah, akan mengerti apa maksud Allah dalam pernikahan. Mereka juga akan mengerti bagaimana konsep pengorbanan Kristus bagi jemaat-Nya yang seharusnya menjadi model dalam hubungan suami dan istri. Dan mereka juga akan saling menerima kelemahan masing-masing karena mereka mengerti bahwa pasangan adalah pemberian Allah yang harus diterima, dihargai dan dikasihi. (PN)
Read More..
Minggu, 02 Maret 2014
Sabtu, 22 Februari 2014
KESATUAN DALAM PERNIKAHAN
Refleksi Materi Kuliah Rumah Tangga Kristen tentang Kesatuan didalam Pernikahan.
Pernikahan bukanlah sesuatu yang kebetulan terjadi karena keinginan seorang laki-laki atau perempuan. Tetapi sejak semula ketika Allah mempersatukan laki-laki dan perempuan, Allah kemudian memberikan tanggung jawab kepada mereka atas segala ciptaan-Nya. Dalam Kej 1:28 dikatakan “Allah memberkati mereka, lalu berfirman… “ memberikan penjelasan bahwa Allah memberkati manusia supaya mereka menjadi satu dan setelah mereka menjadi satu, barulah Allah memberikan perintah untuk mereka laksanakan, sehingga apa yang menjadi tujuan Allah dalam menciptakan pernikahan dapat tercapai.
Perintah yang Allah berikan setelah memberkati mereka adalah, beranakcuculah dan bertambah banyak. Hal ini menunjukkan bahwa didalam kesatuan laki-laki dan perempuan, akan lahir generasi-generasi Ilahi yang akan memenuhi bumi. Kemudian perintah berikutnya adalah taklukanlah bumi dan berkuasa atas segala ciptaan-Nya menyatakan bahwa di dalam kesatuan, manusia akan dapat menghadapi tantangan hidup dan menjadi pemenang atas segala perkara.
Makanya dalam sebuah pernikahan seharusnya suami benar-benar hidup menyatu dengan istrinya dalam segala hal. Karena hanya dengan sebuah kesatuan rencana Allah dalam sebuah rumah tangga dapat tergenapi. Bahkan ketika Allah menciptakan sebuah pernikahan, itu pun dimulai dari adanya kesatuan, yaitu kesatuan Tritunggal (Kej 1:26-27). Kesatuan benar-benar merupakan unsur yang penting untuk memenuhi maksud Allah dalam pernikahan. Dan kesatuan dapat dicapai apabila setiap pernikahan dapat menerima pasangannya sebagai pemberian dari Allah. Kesatuan antara suami dan istri akan melahirkan generasi-generasi ilahi yang tangguh di dalam menjalani kehidupan. Kesatuan juga akan meringankan dalam melaksanakan tanggung jawab, karena suami dan istri akan bekerja sama dalam kesehatian dan kesetaraan. Dan dengan kesatuan suami dan istri akan saling melengkapi dan saling menerima kelemahan pasangan sebagai sebuah design Ilahi yang Allah berikan dalam kehidupan setiap orang. Dengan kesatuan juga, ada keharmonisan dalam keluarga yang akan menjadi contoh bagi anak-anak yang dilahirkan dalam keluarga tersebut. Dan yang terpenting adalah kesatuan dalam pernikahan akan terus terjadi ketika suami sebagai kepala keluarga selalu membawa istri dan anak-anaknya dalam mesbah keluarga. Dengan memiliki hubungan yang intim dengan Allah maka kesatuan dalam pernikahan akan terjaga.
Saya kemudian baru mengerti kenapa ada banyak pernikahan yang tidak dapat menggenapi rencana Allah dalam keluarga, adalah karena tidak adanya sebuah kesatuan dalam keluarga tersebut. Masing-masing tidak dapat menerima kelemahan pasangan dan tidak adanya kerja sama dan saling mendukung dalam keluarga. Dan hal yang biasa terjadi adalah ketika pasangan suami dan istri mulai merasakan adanya sebuah perbedaan di dalam visi yang Allah berikan kepada mereka. Masing-masing menjalankan kehidupan dengan alasan mau taat, sesuai dengan visi yang Allah berikan, tetapi tidak melibatkan pasangan dalam melaksanakannya. Dan hal itu mengakibatkan terjadi perpisahan antara suami dan istri. Menurut saya itu adalah sebuah alasan saja karena saya percaya bahwa, ketika Allah memberkati manusia untuk menjadi satu, maka Allah pun mempersatukan mereka di dalam visi tersebut. Pernikahan yang tidak ada kesatuan, akan gagal dalam merefleksikan gambar Allah dan gagal juga dalam melaksanakan tujuan Allah bagi pernikahan yaitu untuk memenuhi bumi dengan generasi ilahi yang tangguh dan untuk menaklukkan bumi. Karena secara otomatis dunia akan melihat kehidupan keluarga-keluarga Kristen yang tidak mencerminkan gambaran Allah sehingga tidak menjadi berkat bagi dunia.
Jadi kesimpulan yang saya dapatkan dari materi ini adalah harus ada kesatuan dalam pernikahan karena tanpa kesatuan maka pernikahan akan gagal dalam memenuhi maksud Allah bagi dunia lewat pernikahan tersebut. (PN) Read More..
Pernikahan bukanlah sesuatu yang kebetulan terjadi karena keinginan seorang laki-laki atau perempuan. Tetapi sejak semula ketika Allah mempersatukan laki-laki dan perempuan, Allah kemudian memberikan tanggung jawab kepada mereka atas segala ciptaan-Nya. Dalam Kej 1:28 dikatakan “Allah memberkati mereka, lalu berfirman… “ memberikan penjelasan bahwa Allah memberkati manusia supaya mereka menjadi satu dan setelah mereka menjadi satu, barulah Allah memberikan perintah untuk mereka laksanakan, sehingga apa yang menjadi tujuan Allah dalam menciptakan pernikahan dapat tercapai.
Perintah yang Allah berikan setelah memberkati mereka adalah, beranakcuculah dan bertambah banyak. Hal ini menunjukkan bahwa didalam kesatuan laki-laki dan perempuan, akan lahir generasi-generasi Ilahi yang akan memenuhi bumi. Kemudian perintah berikutnya adalah taklukanlah bumi dan berkuasa atas segala ciptaan-Nya menyatakan bahwa di dalam kesatuan, manusia akan dapat menghadapi tantangan hidup dan menjadi pemenang atas segala perkara.
Makanya dalam sebuah pernikahan seharusnya suami benar-benar hidup menyatu dengan istrinya dalam segala hal. Karena hanya dengan sebuah kesatuan rencana Allah dalam sebuah rumah tangga dapat tergenapi. Bahkan ketika Allah menciptakan sebuah pernikahan, itu pun dimulai dari adanya kesatuan, yaitu kesatuan Tritunggal (Kej 1:26-27). Kesatuan benar-benar merupakan unsur yang penting untuk memenuhi maksud Allah dalam pernikahan. Dan kesatuan dapat dicapai apabila setiap pernikahan dapat menerima pasangannya sebagai pemberian dari Allah. Kesatuan antara suami dan istri akan melahirkan generasi-generasi ilahi yang tangguh di dalam menjalani kehidupan. Kesatuan juga akan meringankan dalam melaksanakan tanggung jawab, karena suami dan istri akan bekerja sama dalam kesehatian dan kesetaraan. Dan dengan kesatuan suami dan istri akan saling melengkapi dan saling menerima kelemahan pasangan sebagai sebuah design Ilahi yang Allah berikan dalam kehidupan setiap orang. Dengan kesatuan juga, ada keharmonisan dalam keluarga yang akan menjadi contoh bagi anak-anak yang dilahirkan dalam keluarga tersebut. Dan yang terpenting adalah kesatuan dalam pernikahan akan terus terjadi ketika suami sebagai kepala keluarga selalu membawa istri dan anak-anaknya dalam mesbah keluarga. Dengan memiliki hubungan yang intim dengan Allah maka kesatuan dalam pernikahan akan terjaga.
Saya kemudian baru mengerti kenapa ada banyak pernikahan yang tidak dapat menggenapi rencana Allah dalam keluarga, adalah karena tidak adanya sebuah kesatuan dalam keluarga tersebut. Masing-masing tidak dapat menerima kelemahan pasangan dan tidak adanya kerja sama dan saling mendukung dalam keluarga. Dan hal yang biasa terjadi adalah ketika pasangan suami dan istri mulai merasakan adanya sebuah perbedaan di dalam visi yang Allah berikan kepada mereka. Masing-masing menjalankan kehidupan dengan alasan mau taat, sesuai dengan visi yang Allah berikan, tetapi tidak melibatkan pasangan dalam melaksanakannya. Dan hal itu mengakibatkan terjadi perpisahan antara suami dan istri. Menurut saya itu adalah sebuah alasan saja karena saya percaya bahwa, ketika Allah memberkati manusia untuk menjadi satu, maka Allah pun mempersatukan mereka di dalam visi tersebut. Pernikahan yang tidak ada kesatuan, akan gagal dalam merefleksikan gambar Allah dan gagal juga dalam melaksanakan tujuan Allah bagi pernikahan yaitu untuk memenuhi bumi dengan generasi ilahi yang tangguh dan untuk menaklukkan bumi. Karena secara otomatis dunia akan melihat kehidupan keluarga-keluarga Kristen yang tidak mencerminkan gambaran Allah sehingga tidak menjadi berkat bagi dunia.
Jadi kesimpulan yang saya dapatkan dari materi ini adalah harus ada kesatuan dalam pernikahan karena tanpa kesatuan maka pernikahan akan gagal dalam memenuhi maksud Allah bagi dunia lewat pernikahan tersebut. (PN) Read More..
Sabtu, 18 Januari 2014
MEMANDANG PADA JANJI ALLAH
Bilangan 14:1-38
Sudah menjadi kebiasaan keluarga Toms untuk melakukan liburan bersama anak-anak mereka sebagai hadiah pada akhir semester. Dealbelle, anak yang sulung terpaksa tidak dapat ikut dalam liburan kali ini, karena nilai pelajaran yang tidak memuaskan hati ayah dan ibunya. Sangat masuk akal jika anak ini tidak memperoleh nilai yang baik karena dalam melewati masa-masa belajar disekolah, dilewati dengan sungutan setiap kali harus mengerjakan tugas yang diberikan gurunya. Nasehat guru dan orang tuanya supaya belajar dengan giat dibalas dengan omelan. Kebiasaan bersungut dan mengomel lambat laun membuatnya menjadi malas dan susah diatur. Dan hasilnya nampak pada nilai-nilainya diakhir semester.
Dan pada akhir semester ketika orang tuanya memenuhi janji mereka untuk berlibur bersama anak-anaknya, Dealbelle tidak dapat ikut karena harus mengerjakan kembali tugas-tugas yang pernah dia abaikan untuk mengejar ketinggalan pelajaran. Anak ini kehilangan kesempatan untuk menikmati janji orang tuanya karena kesalahannya sendiri.
Bangsa Israel tidak memandang pada janji Allah bahwa Dia akan membawa mereka ke negri yang berlimpah susu dan madunya. Mereka hidup dalam sungutan hingga kehilangan kesempatan untuk menikmati janji-janji Allah. Janji Allah kepada kita selalu disertai dengan syarat yang tentunya harus kita lakukan dengan setia. Dan janji itu hanya dapat kita nikmati ketika kita melakukan syarat yang mengikutinya. Berbeda dengan janji manusia, janji Allah tidak pernah gagal dalam kehidupan kita. Ketika Allah berjanji maka Dia pasti akan menepatinya, hanya diperlukan hati yang sabar dalam melakukan syarat-syarat yang telah Allah tetapkan. Sebagaimana janji Allah tertulis dalam Alkitab, maka syarat-syaratnya pun ada di dalam Alktab. Bagi orang yang percaya dan melakukan firman Tuhan dengan setia, maka dialah yang akan menikmati janji-janji Allah.
Lakukanlah firman Tuhan setiap saat, bahkan disaat keadaan sulit sekalipun tetapkan hati untuk tetap melakukan firman Tuhan dengan keyakinan bahwa dibalik semua kesulitan tersedia janji Allah yang akan kita nikmati. Jangan membiasakan diri untuk bersungut-sungut seperti bangsa Israel. Karena setiap sungutan yang keluar dari mulut kita adalah langkah mundur yang membuat kita semakin jauh dari janji Allah. Tetapi kesetiaan dalam melakukan firman-Nya disertai dengan ucapan syukur akan membawa kita semakin hari semakin dekat pada janji Allah. (PN) Read More..
Dan pada akhir semester ketika orang tuanya memenuhi janji mereka untuk berlibur bersama anak-anaknya, Dealbelle tidak dapat ikut karena harus mengerjakan kembali tugas-tugas yang pernah dia abaikan untuk mengejar ketinggalan pelajaran. Anak ini kehilangan kesempatan untuk menikmati janji orang tuanya karena kesalahannya sendiri.
Bangsa Israel tidak memandang pada janji Allah bahwa Dia akan membawa mereka ke negri yang berlimpah susu dan madunya. Mereka hidup dalam sungutan hingga kehilangan kesempatan untuk menikmati janji-janji Allah. Janji Allah kepada kita selalu disertai dengan syarat yang tentunya harus kita lakukan dengan setia. Dan janji itu hanya dapat kita nikmati ketika kita melakukan syarat yang mengikutinya. Berbeda dengan janji manusia, janji Allah tidak pernah gagal dalam kehidupan kita. Ketika Allah berjanji maka Dia pasti akan menepatinya, hanya diperlukan hati yang sabar dalam melakukan syarat-syarat yang telah Allah tetapkan. Sebagaimana janji Allah tertulis dalam Alkitab, maka syarat-syaratnya pun ada di dalam Alktab. Bagi orang yang percaya dan melakukan firman Tuhan dengan setia, maka dialah yang akan menikmati janji-janji Allah.
Lakukanlah firman Tuhan setiap saat, bahkan disaat keadaan sulit sekalipun tetapkan hati untuk tetap melakukan firman Tuhan dengan keyakinan bahwa dibalik semua kesulitan tersedia janji Allah yang akan kita nikmati. Jangan membiasakan diri untuk bersungut-sungut seperti bangsa Israel. Karena setiap sungutan yang keluar dari mulut kita adalah langkah mundur yang membuat kita semakin jauh dari janji Allah. Tetapi kesetiaan dalam melakukan firman-Nya disertai dengan ucapan syukur akan membawa kita semakin hari semakin dekat pada janji Allah. (PN) Read More..
Langganan:
Komentar (Atom)





