span.fullpost {display:none;}

Sabtu, 22 Februari 2014

KESATUAN DALAM PERNIKAHAN

Refleksi Materi Kuliah Rumah Tangga Kristen tentang Kesatuan didalam Pernikahan.

Pernikahan bukanlah sesuatu yang kebetulan terjadi karena keinginan seorang laki-laki atau perempuan. Tetapi sejak semula ketika Allah mempersatukan laki-laki dan perempuan, Allah kemudian memberikan tanggung jawab kepada mereka atas segala ciptaan-Nya. Dalam Kej 1:28 dikatakan “Allah memberkati mereka, lalu berfirman… “ memberikan penjelasan bahwa Allah memberkati manusia supaya mereka menjadi satu dan setelah mereka menjadi satu, barulah Allah memberikan perintah untuk mereka laksanakan, sehingga apa yang menjadi tujuan Allah dalam menciptakan pernikahan dapat tercapai.

Perintah yang Allah berikan setelah memberkati mereka adalah, beranakcuculah dan bertambah banyak. Hal ini menunjukkan bahwa didalam kesatuan laki-laki dan perempuan, akan lahir generasi-generasi Ilahi yang akan memenuhi bumi. Kemudian perintah berikutnya adalah taklukanlah bumi dan berkuasa atas segala ciptaan-Nya menyatakan bahwa di dalam kesatuan, manusia akan dapat menghadapi tantangan hidup dan menjadi pemenang atas segala perkara.

Makanya dalam sebuah pernikahan seharusnya suami benar-benar hidup menyatu dengan istrinya dalam segala hal. Karena hanya dengan sebuah kesatuan rencana Allah dalam sebuah rumah tangga dapat tergenapi. Bahkan ketika Allah menciptakan sebuah pernikahan, itu pun dimulai dari adanya kesatuan, yaitu kesatuan Tritunggal (Kej 1:26-27). Kesatuan benar-benar merupakan unsur yang penting untuk memenuhi maksud Allah dalam pernikahan. Dan kesatuan dapat dicapai apabila setiap pernikahan dapat menerima pasangannya sebagai pemberian dari Allah. Kesatuan antara suami dan istri akan melahirkan generasi-generasi ilahi yang tangguh di dalam menjalani kehidupan. Kesatuan juga akan meringankan dalam melaksanakan tanggung jawab, karena suami dan istri akan bekerja sama dalam kesehatian dan kesetaraan. Dan dengan kesatuan suami dan istri akan saling melengkapi dan saling menerima kelemahan pasangan sebagai sebuah design Ilahi yang Allah berikan dalam kehidupan setiap orang. Dengan kesatuan juga, ada keharmonisan dalam keluarga yang akan menjadi contoh bagi anak-anak yang dilahirkan dalam keluarga tersebut. Dan yang terpenting adalah kesatuan dalam pernikahan akan terus terjadi ketika suami sebagai kepala keluarga selalu membawa istri dan anak-anaknya dalam mesbah keluarga. Dengan memiliki hubungan yang intim dengan Allah maka kesatuan dalam pernikahan akan terjaga.

Saya kemudian baru mengerti kenapa ada banyak pernikahan yang tidak dapat menggenapi rencana Allah dalam keluarga, adalah karena tidak adanya sebuah kesatuan dalam keluarga tersebut. Masing-masing tidak dapat menerima kelemahan pasangan dan tidak adanya kerja sama dan saling mendukung dalam keluarga. Dan hal yang biasa terjadi adalah ketika pasangan suami dan istri mulai merasakan adanya sebuah perbedaan di dalam visi yang Allah berikan kepada mereka. Masing-masing menjalankan kehidupan dengan alasan mau taat, sesuai dengan visi yang Allah berikan, tetapi tidak melibatkan pasangan dalam melaksanakannya. Dan hal itu mengakibatkan terjadi perpisahan antara suami dan istri. Menurut saya itu adalah sebuah alasan saja karena saya percaya bahwa, ketika Allah memberkati manusia untuk menjadi satu, maka Allah pun mempersatukan mereka di dalam visi tersebut. Pernikahan yang tidak ada kesatuan, akan gagal dalam merefleksikan gambar Allah dan gagal juga dalam melaksanakan tujuan Allah bagi pernikahan yaitu untuk memenuhi bumi dengan generasi ilahi yang tangguh dan untuk menaklukkan bumi. Karena secara otomatis dunia akan melihat kehidupan keluarga-keluarga Kristen yang tidak mencerminkan gambaran Allah sehingga tidak menjadi berkat bagi dunia.

Jadi kesimpulan yang saya dapatkan dari materi ini adalah harus ada kesatuan dalam pernikahan karena tanpa kesatuan maka pernikahan akan gagal dalam memenuhi maksud Allah bagi dunia lewat pernikahan tersebut. (PN)
Read More..