Digenapi bagi orang yang menanti dengan sabar.. Ibrani 6:10-15 Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.(ayat 15)
... sebelum kita sampai pada janji itu, terlebih dahulu Allah mau mempersiapkan kita.
Menerima janji Allah adalah hal yang sangat indah. Mendatangkan semangat, kekuatan dan harapan-harapan yang baru. Membuat kita ingin berpacu melawan waktu. Seakan ingin memutar hari untuk bisa cepat berganti, agar dapat segera tiba pada penggenapan janji itu.
...
Ada banyak orang yang tau bahwa Allah yang berjanji adalah setia, tetapi tidak banyak yang mau bersabar dalam "ruang tunggu" Allah untuk menanti janji tersebut. Bahkan terkadang manusia merasa lebih pintar dari Allah, dan merasa lebih tahu jalan yang cepat dan tepat untuk bisa sampai pada janji tersebut.
Sementara kita lupa bahwa sebelum kita sampai pada janji itu, terlebih dahulu Allah mau mempersiapkan kita. Dan Allah akan memproses kita agar rencana-Nya bagi kita nantinya akan mendatangkan kemuliaan bagi nama-Nya. Olehnya setiap orang yang akan menerima janji Allah harus melalui sebuah proses yang juga telah disiapkan Allah. Proses itu bisa cepat… bisa lama… bahkan mungkin penuh dengan air mata…
Bangsa Israel dibawa Allah keluar dari Mesir untuk masuk ke dalam tanah perjanjian. Namun Allah kemudian membiarkan mereka berjalan di padang gurun dalam waktu yang lama agar mereka dapat menyaksikan kuasa Allah. Namun terbuktilah bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk, bebal dan tidak tau mengucap syukur. Keyakinan mereka kepada kebesaran Allah diukur dengan perut mereka. Ketika mereka kenyang mereka akan bersorak memuji Allah. Namun ketika mereka lapar, mereka kembali meragukan kuasa Allah. Mereka mulai menggerutu, berteriak dan bersungut-sungut di hadapan Allah. Akhirnya karena dosa dan ketidak sabaran itu membuat Allah membinasakan mereka, sehingga generasi ini tidak mengecap penggenapan janji Allah. Coba bayangkan, jika sebagai orang percaya kita masih hidup dengan karakter yang seperti ini. Akan siapkah kita menerima janji Allah?
Yusuf seorang pemuda yang juga menerima janji Allah lewat sebuah mimpi bahwa dia akan menjadi seorang yang besar dan orang tua serta saudara2nya akan menyembah dia. Namun mimpi itu tidak langsung menjadi kenyataan ketika dia terbangun dari tidurnya. Sebelum janji itu digenapi dalam hidupnya, Allah harus membawa dia jauh dari rumah bapanya, tempat dimana dia menjadi anak manja kesayangan bapanya, yang sehari-hari tinggal di rumah dengan pakaian maha indah disaat saudara-saudaranya pergi bekerja. Allah perlu memisahkan Yusuf dari kehidupannya yang nyaman, untuk memproses hidupnya, agar dia siap ketika janji itu digenapi baginya.
Allah tidak memberi janji seperti Jin dalam cerita-cerita dongeng anak-anak. Dengan sim salabim… janji itu terjadi. Tetapi ada proses yang harus dilalui untuk persiapan dalam menerima janji Allah. Karena Allah akan menggenapinya dalam kehidupan orang-orang yang dapat dipercaya untuk menerima janji itu.
Dan berbeda dengan Bangsa Israel, Yusuf menjalani proses pemurnian Allah tanpa sungutan. Awalnya dia harus menerima perlakuan kasar dari saudara2nya, kemudian dijual dan dibawah ke Mesir. Kemudian dijual kembali kepada Potifar kepala pengawal raja.
Saat di rumah Potifar, sejenak nampak kehidupan Yusuf mulai membaik. Firman Tuhan mencatat “ Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu. Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya, maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf.” (Kej 39:2-4)
Mungkin saja Yusuf pun berpikir bahwa inilah saat dimana penderitaannya telah berakhir. Namun perkiraan Yusuf meleset jauh. Karena kemudian Yusuf difitnah oleh istri Potifar yang mengakibatkan dia harus dipenjara.
Apakah Tuhan sedang mempermainkan Yusuf? Jika kita di pihak Yusuf, mungkin inilah yang menjadi pertanyaan kita. Bukankah Allah yang berjanji? Koq malah masuk penjara? Atau mungkin Allah lupa dengan janji-Nya?
Allah tidak sedang mempermainkan Yusuf apalagi melupakan janji itu. Tetapi Allah sedang memproses Yusuf. Dan proses itu baru dimulai.
Yusuf melewati tahap demi tahap bersama Tuhan. Dia tidak mengeluh sekalipun kejadian-kejadian pahit harus dilalui terlebih dahulu untuk sampai pada janji Allah. Sehingga ketika janji itu tergenapi dalam hidupnya, dia bukan lagi menjadi Yusuf yang manja, yang hanya tinggal di rumah dengan pakaian2 indah pemberian bapanya. Tetapi dia telah menjadi Yusuf yang memiliki karakter yang kuat di dalam Tuhan dan mengerti benar rencana Allah dalam hidupnya. Sehingga ketika bertemu dengan saudara-saudaranya kembali, dia dapat berkata "Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir. Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. “ Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar (Kej 45:4b-5;50:20)
Yusuf sanggup mengampuni, Yusuf mendapat kepercayaan dari Firaun, Yusuf diangkat oleh Tuhan sesuai janji Tuhan. Dan semua itu terjadi karena karakter Yusuf telah terbentuk dalam masa-masa sulit yang Allah ijinkan terjadi dalam hidupnya. Itulah proses persiapan yang Allah lakukan bagi Yusuf. Dan Yusuf menjalani dengan sabar tanpa mengeluh.
Saudara, mengalami proses Allah itu menyakitkan tetapi memiliki tujuan yang mulia bagi setiap orang yang rela untuk dibentuk. Kalau saat ini saudara sedang menerima janji Allah, bersiaplah dan relakan hatimu untuk dibentuk oleh Allah. Anggaplah saat ini engkau sedang berada di dalam "ruang tunggu" Allah. Biarkan Dia menyelesaikan rencana-Nya bagi hidupmu. Bersabarlah dan jangan mengeluh... lewati saja tahap demi tahap bersama dengan Tuhan. Allah yang berjanji adalah setia. Dia akan memberikan janji itu tepat pada waktunya, yaitu saat Dia tahu benar bahwa engkau telah siap untuk menerima janji itu.(PN)
Read More..


